Indonesia
Gamereactor
preview
Tails of Iron

Tails of Iron - Impresi Pertama

Tikus dan kodok beradu dalam Souls-like yang menarik dari Odd Bug Studio.

HQ
HQ

Sudah terlalu banyak game Souls-like yang telah saya mainkan beberapa tahun ke belakang, namun banyak yang masih diingat karena begitu besar potensi dari game-game tersebut. Salah satu pendatang baru di genre ini adalah Tails of Iron, yang memberikan kesan mendalam berkat pertarungan yang mendalam dan desain unik yang dihadirkan. Saya berkesempatan untuk mencoba game ini saat pembukaan dan berbicara dengan produser serta desainernya yaitu Jack Bennett.

Cerita dimulai dengan cukup mengerikan di mana sang protagonis dan pewaris tahta, Redgi yang menyaksikan serangan sekelompok kodok yang membasmi hampir seluruh penduduk kerajaan tikusnya. Setelah kalah dari pertarungan dan terbangun di antara mayat yang tergeletak, Redgi memulai perjalanannya untuk menyelamatkan saudara-saudaranya yang diculik dan membalaskan dendam. Para tikus berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri sehingga tidak ada pengisian suara di sini, namun Doug Cockle pengisi suara dari Geralt of Rivia hadir sebagai pengantar narasi.

Inti dari permainan mungkin sesulit seri Souls biasanya, namun terdapat beberapa perbedaan. Pertama, tidak ada meteran stamina dan pemain bebas untuk mengayunkan pedang dan menggunakan tamengnya. Bukan berarti permainan menjadi semakin mudah, karena jika tidak tepat waktu maka akan membuatmu rentan terhadap serangan mematikan. Dengan perspektif 2D, gerakan juga dibatasi dan penempatan posisi menjadi sangat penting. Cukup problematik saat diharuskan untuk menjaga diri dari dua arah, sehingga lebih baik untuk terus bergerak dan memastikan musuh terhalang tameng dengan pas.

Dalam Tails of Iron, terdapat tiga serangan dasar yang bisa dikeluarkan oleh musuh yang ditampilkan dengan baik melalui tanda-tanda di layar. Serangan merah tidak bisa ditangkis dan harus dihindari, serangan kuning bisa ditangkis untuk memberikan damage tambahan dan serangan dasar dapat ditangkis dan dihindari. Secara pribadi, saya cukup terkejut betapa pentingnya menangkis di sini, di mana pada Souls-like lain (selain Sekiro: Shadows Die Twice) yang menjadi opsional untuk pemain yang lebih mahir. Meski jendela untuk menangkis cukup luas dan setelah beberapa kali bertarung, menangkis terasa lebih mudah.

Kematian merupakan sesuatu yang pasti di Tails of Iron, namun tetap akan membuat sakit hati. Saat kamu mati semua peralatan yang kamu gunakan akan hilang dan kamu akan terpaksa kembali ke kursi terakhir tempatmu beristirahat. AKan menjadi bahaya jika kamu belum beristirahat selama satu jam, karena tidak ada sistem auto-save dalam game ini sehingga butuh kesabaran tinggi untuk menjelajahi dan mencari tempat istirahat. Mekanik seperti ini membuat game terasa lebih rogue-like karena di tia kesempatan kita diharuskan untuk mencari dan menggunakan perlengkapan baru yang sebelumnya telah hilang.

Tails of Iron

Untuk perlengkapan, Tails of Iron menghadirkan banyaknya pilihan senjata dan armor yang memberikan gaya permainan beragam. Tiap item memiliki dua stat utama: berat dan efektifitas (attack atau defense menyesuaikan dengan senjata atau armor) dan kamu harus memilih item yang diprioritaskan. Menggunakan peralatan yang lebih berat akan mengurangi kemampuanmu untuk menghindar dan berguling, namun membuatmu bisa lebih banyak menerima damage. Kebalikannya, peralatan ringan akan membuatmu lebih lincah namun bisa lenyap begitu saja saat terperangkap combo musuh.

Memang demo pendek ini bukanlah hasil akhirnya, namun menyenangkan untuk melihat adanya elemen dari crafting. Di sini kamu dapat mengumpulkan material dan memberikannya pada chef untuk dibuat menjadi masakan dan meningkatkan health secara keseluruhan. Kamu juga akan menemukan cetakan biru untuk diberikan pada pandai besi dan dibuat menjadi senjata atau armor. Tidak diberitahu secara jelas bagaimana cara untuk menemukan material tersebut, namun pastinya akan ditemui saat menyelesaikan side quest dan menjelajahi tempat yang telah dilalui.

Dengan pemeran para tikus dan art-style seperti buku dongeng yang mengesankan menjadi dua pilihan desain Tails of Iron yang menjadi pusat perhatian. Game ini sangat terasa hidup dan menghadirkan nafas buku cerita serta lingkungan yang sangat detail meski dengan gaya 2D-nya. Dalam sesi hands-on, Jack Bennett mengungkapkan bahwa detail latar belakang seperti pohon dan bangunan semua di-layer masing-masing untuk menambah kedalaman. Di sisi lain, untuk para tikus terinspirasi dari hewan peliharaan asli salah satu anggota tim. Namun sayangnya telah berpulang dalam tiga tahun pembuatan game yang tribut manisnya dapat ditemukan pada menu utama.

Tails of Iron benar-benar berbeda dari Souls-like lainnya yang merupakan sebuah pujian. Sistem pertarungan memiliki kedalaman dari beragam peralatan yang dapat digunakan dan saya sangat terkagum dengan visual 2D multi-layer dari game ini. Dunia buku cerita yang suram adalah satu hal yang sangat ingin saya eksplor lebih jauh lagi di mana saya begitu tertarik untuk melihat pentingnya crafting dan side quest nantinya. Pastikan untuk kembali saat kami mengulas penuh Tails of Iron setelah peluncurannya di Nintendo Switch, PC, PS4, PS5, Xbox One, dan Xbox Series pada 17 September, 2021.

Tails of IronTails of Iron
Tails of Iron

Teks terkait



Loading next content


Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.