Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
preview
Battletoads

Battletoads - Impresi dari Gamescom

Kami bertemu dengan Rare dan Dlala, dan mencoba sendiri sebuah demo dua bagian.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Jika kamu hendak menjelajahi perpustakaan luas dari franchise-franchise yang telah mempengaruhi industri video game, beberapa serial akan langsung muncul di dalam pikiran. The Legend of Zelda, Super Mario, dan Halo tidak diragukan lagi dianggap sebagai beberapa yang paling berpengaruh. Tetapi ada sebuah game arcade yang juga diberi label klasik dalam konteks ini, game side-scrolling Battletoads, pertama kali dikembangkan oleh Sea of Thieves dan studio GoldenEye Rare. Dengan minat yang meningkat pada remake, remaster, dan reimagining, bagaimana Battletoads bertahan di medan yang sudah penuh dengan game.

Sebelum kita menyelami konten yang sesungguhnya yang sempat kami lihat dalam hand-on Battletoads 2019 kami, harus disebutkan bahwa Rare bukanlah developer utamanya. Tugas krusial tersebut telah diserahkan secara outsourcing kepada Dlala Studios (ditolak!).

Bagi mereka yang tidak akrab dengan franchise ini, Battletoads adalah sebuah game beat 'em up dari tahun 90-an yang menampilkan mode co-op tiga pemain dan beberapa karakter yang aneh dan janggal. Walaupun game ini cukup sederhana baik dalam sifatnya maupun cakupannya, tetapi terbukti bisa menjadi sebuah hits dalam komunitasnya dan masih mendapatkan popularitas sampai saat ini. Akan tetapi walaupun dengan adanya warisan ini, beberapa orang curiga bahwa Microsoft akan membangkitkan IP ini sebagai barisan game eksklusif mereka yang terus bertambah.

BattletoadsBattletoads

Pada Gamescom tahun ini, kami disuguhi tiga puluh menit waktu hands-on bersama game tersebut, mencoba dua mode terpisah dalam prosesnya. Yang pertama adalah 'Eternity Run' yang baru saja diperkenalkan, yang mengingatkan akan Temple Run (dan plethora dari game-game sejenis). Yang kedua adalah model yang dibangun kembali berdasarkan game originalnya.

Yang pertama kami coba adalah Eternity Run, dan hanya setelah beberapa menit, kami sudah cukup jauh dari merasa terkesan dengan apa yang kami lihat. tanpa ingin terdengar berlebihan secara negatif atau kritis, mode ini mencoba berjalan dalam garis tipis di antara tidak asing dan menyenangkan, tetapi hasilnya malah sedikit membosankan. Dengan konsepnya yang sudah berjalan sampai habis di smartphone sejak permulaan iphone, Eternity Run sulit untuk disukai. Sebagai game pesta, kami bisa melihat daya tariknya, tetapi sudah ada banyak yang menawarkan lebih banyak variasi dan inovasi dalam bagian ini.

Lingkungannya juga cukup membosankan, dengan latar industri seadanya yang berlangsung terus menerus. Pemandangan akhirnya berubah setelah sekitar 10 menit, dan untungnya itu menampilkan area yang lebih hidup dan menarik. Perubahan itu hanya sedikit mengubah persepsi awal kami, tetapi tetap menampilkan sesuatu yang berpotensi untuk bisa sangat seru. Singkatnya, Battletoads tidak melakukan apapun untuk memeriahkan genre endless runner. Untungnya, ini bukanlah bagian inti dari Battletoads, dan kami sudah tidak sabar untuk beranjak dan mencoba bagian utama dari game ini.

Battletoads

Sebelum kami masuk ke dalam bagian originalnya yang telah dikembangkan, kami diberi sebuah perkenalan kecil. Seharusnya, sebuah elemen esensial memiliki sebuah penulisan yang penuh karakter dalam campaign, dan Dlala ingin membangun sebuah game yang sangat penuh humor. Dalam waktu kami yang singkat dengan mode tersebut, kami tidak begitu banyak disuguhi dialog untuk bisa menilai apakah mereka akan benar-benar bisa melakukannya seperti apa yang dijanjikan. Apa yang kami dapatkan adalah banyak waktu bermain-main dengan mode co-op tiga pemain.

Sayangnya hal pertama yang menarik perhatian kami adalah betapa membingungkan gameplay dengan tiga orang yang bekerja bersama dalam waktu yang sama. Setiap karakter tidak begitu berbeda dari yang lainnya, jadi kami selalu salah mengenali diri kami dengan katak-katak yang dikendalikan orang lain. Terlebih lagi, hal ini terbukti lebih menjadi masalah ketika layar dipenuhi gelombang-gelombang musuh.

Berhadapan dengan musuh-musuh tersebut dibuat mudah diakses karena skema kontrol yang sederhana. Karenanya, kontrolnya selama pertempuran, walaupun kadang-kadang sedikit membingungkan, tidak terlalu menantang, dan kami segera mencari tahu bagaimana cara melakukan serangan spesial dan serangan dasar. Serupa dengan banyak game lainnya dalam genre action, X dan Y digunakan untuk serangan kami. Beberapa serangan spesial bisa dilakukan, tetapi developer mengatakan bahwa demo tersebut hanya merupakan kulit tipis dari semua kemungkinan yang ada. Singkatnya, sifat intuitif dari game ini sebagian terdiri dari interface yang kadang-kadang membingungkan, dibandingkan dengan endless running dan kebingungan yang kadang muncul, bagian demo ini terasa jauh lebih menyenangkan, terutama jika dimainkan bersama yang lainnya.

Pada bagian visual, grafik bergaya kartun terlihat dan berjalan dengan cukup baik dalam merevitalisasi estetika Battletoads. Battletoads yang baru ini bukanlah sebuah game yang luar biasa indah, dan hanya bagi para fans sebuah gaya old school. Bagian game yang kami mainkan bersetting di sebuah lingkungan urban, dan untuk background dalam Eternity Run, itu bukanlah sebuah area yang lebih menarik dan hidup yang sangat unik dalam franchise tersebut. walaupun demikian, hampir semua aspek dari game ini memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang spesial, dan sangat menarik bagaimana Battletoad akhirnya akan terlihat ketika akhirnya dirilis di Xbox One.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
BattletoadsBattletoadsBattletoadsBattletoads

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Teks terkait



Loading next content