Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
artikel
Resident Evil 2

Game Terbaik Tahun 2019: Resident Evil 2

Capcom berhasil melakukannya lagi dengan sebuah game horor yang membawa kita kembali ke Raccoon City.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Setelah sebuah pengumuman, para penggemar horor telah menunggu-nunggu remake dari Resident Evil 2 untuk mendarat. Pada Januari tahun 2019, itulah yang terjadi, di mana Capcom membuat ulang game dari tahun 1998 itu dari awal lagi dalam rangka membuatnya menjadi sebuah game horor modern. Remake ini meningkatkan segalanya selevel lebih jauh daripada remaster yang dibuat untuk game pertama pada 2015 lalu, dengan sebuah perubahan yang lebih komprehensif serta fitur-fitur baru untuk membedakan permainan dengan cara yang tak terlihat namun sangat berpengaruh. Hasilnya adalah sebuah pengalaman horor yang berhasil melampaui pendahulunya dalam segala cara.

Ketika Resident Evil 7: Biohazard membangkitkan kembali franchise ini, ia terlihat hebat karena kualitas dari RE Engine milik Capcom, yang digunakan sekali lagi di Resident Evil 2. Inilah yang membawa game klasik dari PlayStation itu ke era modern, mengubah sebuah pengalaman horor vintage ke dalam sebuah game berpenampilan terbaik di generasi ini, dengan lingkungan yang mendetail, animasi wajah yang nyata, cutscene sinematik, dan detail-detail kecil ke mana pun kamu melihat.

Pencahayaan pantas diberikan pujian karena cahaya dan kegelapan benar-benar membentuk atmosfernya, yang disajikan dengan baik oleh Capcom di sepanjang game. Dengan Raccoon City yang bermandikan kegelapan dan dipenuhi para mayat hidup, pencahayaan betul-betul meningkatkan tensi setiap saat, terutama ketika kita harus mengandalkan lampu senter untuk memecah kegelapan. Ini adalah sebuah petualangan menegangkan yang mempertahankan perasaan terisolasi dari game aslinya, dan ia terasa lebih mengekang dan berbahaya lagi seiring perjalananmu membuka area baru.

Strukturnya sebagian besar masih mirip dengan versi aslinya, meski ada beberapa tambahan di sana-sini. Namun, secara keseluruhan, tim developer masih setia dengan jiwa dari versi asli dari tahun 1998. Kamu masih bisa mengenali lorong-lorong dan atrium utama, tetapi segalanya telah dipoles dan diperbarui, yang cukup untuk membuat sebuah ruang bermain yang terasa segar dan dapat dikenali di waktu yang sama. Bagusnya, pengalamannya tidak disederhanakan untuk menarik perhatian audiens yang lebih luas.

Tentu saja, kami tak bisa membahas proses modernisasi tanpa membicarakan tentang perubahan kamera. Ini adalah keputusan besar untuk Capcom, karena mereka menghilangkan kamera tetap, tetapi memilih untuk sesuatu yang lebih mirip ke sudut pandang pihak ketiga di Resident Evil 4. Ini adalah keputusan yang terbayar karena kita bisa melihat lingkungan dengan sudut pandang yang sama sekali baru. Terlebih, hanya karena kita melihat kejadian dari sudut pandang baru, tak berarti segalanya jadi kurang menakutkan; kameranya cukup dekat untuk membuat kita tak menyadari adanya musuh di belakang, jadi masih ada elemen horor di sini. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di sekitar kita, sudut pandang baru ini menghasilkan penjelajahan yang menegangkan.

Sementara itu, desain audionya juga terasa mengancam, dan segalanya menjadi lebih menakutkan ketika kamu mendengar dentuman langkah dari Mr X, yang lebih mengancam lagi di 2019 daripada 21 tahun yang lalu. Kegigihannya mengejar pemain adalah salah satu kengerian yang ada di sini, tetapi ada banyak lagi hal lain yang siap mengagetkanmu, seperti lickers yang berkeliaran di kegelapan, dan zombi yang sering muncul entah dari mana, layaknya tamu tak diundang di pemakaman. Ke mana pun kamu pergi, terdapat horor yang menunggu dan Capcom menyajikannya dengan pendekatan yang nyaris sempurna. Tempo dari Resident Evil 2 juga luar biasa.

Para zombi dan mayat ditampilkan dengan detail yang mengerikan sehingga sulit untuk membantah bahwa ini adalah salah satu game tersadis saat ini, karena darah, daging, dan luka ditampilkan secara mendetail, termasuk momen ketika kamu melihat rahang yang terlepas dari tengkorak, yang menarik urat-urat dari tempatnya. Terdapat pula usaha untuk membuat visualnya lebih mendalam dan berpengaruh, yang memastikan pengalaman horor yang terus membuatmu tegang di setiap saat.

Ketegangannya lebih meningkat lagi karena setiap peluru sangat berarti. Kamu tak memiliki banyak amunisi, ciri khas Resident Evil 2 yang merupakan sebuah game survival horror. Itu artinya kamu hanya memiliki sumber daya dan perlengkapan yang terbatas, yang harus kamu kelola dengan hati-hati jika ingin bertahan hidup. Terkadang Capcom terasa pelit dalam memberikan ruang penyimpanan, tetapi itu artinya kamu selalu mempertanyakan kapan waktu yang tepat untuk melakukan save, apa yang harus disimpan, dan apa yang harus kamu tinggalkan ketika menjelajahi Raccoon City di mana setiap pilihan dapat membuatmu mati.

Bagi mereka yang sudah memainkan versi aslinya, cerita di remake ini masih sama dengan apa yang dimainkan bertahun-tahun lalu. Jadi meski kami tak bisa memujinya sebagai narasi terbaik untuk 2019, kami setidaknya bisa mengatakan bahwa ceritanya tetap terasa bagus meski sudah berusia lebih dari dua puluh tahun. Meski begitu, yang paling beruntung adalah mereka yang belum memainkannya sama sekali, karena mereka akan menemukan sebuah cerita yang berkualitas di sini, yang penuh dengan kejutan, apakah kamu bermain sebagai Leon atau Claire (atau campaign bonus lainnya).

Meski Capcom masih menggunakan naskah lama, tetapi tidak berarti semuanya benar-benar sama. Kami tak akan membocorkan apapun di sini, tetapi terdapat beberapa kejutan baru yang menunggu, yang tentu saja bagus untuk para veteran game ini, bahkan bagi mereka yang telah secara detail memainkan versi orisinalnya. Ini adalah keputusan yang bagus sehingga tak ada seorang pun yang tahu apa yang menunggu mereka.

Tim editorial kami berisi mereka yang pernah memainkan versi orisinal dan baru bermain versi remake, tetapi satu hal yang bisa kami setujui adalah Resident Evil 2 adalah sebuah kenikmatan untuk dimainkan. Segalanya mulai dari desain level hingga peningkatan visual menghasilkan sebuah pengalaman horor berkualitas tinggi yang terus membuat jantung kami berdegup kencang. Kami ketakutan ketika kami menjelajah dan kembali melalui koridornya yang sempit, mencari solusi puzzle, dan menghindari musuh-musuh seakan-akan hidup kami tergantung padanya. Ini adalah kombinasi pertarungan intens dan tantangan-tantangan pemutar otak yang sama dengan apa yang telah dikenal para penggemar Resident Evil. Bagi mereka yang baru mengenalnya dari Resident Evil 7 pun akan merasa seperti di rumah ketika memainkannya.

Berkat visualnya yang menawan, audio penuh atmosfer, narasi intens, fan service yang dermawan, tingkat replay yang tinggi, dan desain level yang tak lekang oleh waktu, tim editorial kami tak dapat memilih game lain selain remake dari Resident Evil 2 untuk menjadi game terbaik kami di tahun 2019. Di 12 bulan yang berisi game-game sekelas Sekiro: Shadow Die Twice, Control, dan The Outer Worlds, ini adalah sebuah pencapaian hebat. Kualitasnya juga berpengaruh bagus untuk remake dari Resident Evil 3 yang akan datang, yang akan hadir dalam hitungan bulan, kali ini dengan fitur multiplayer pula. Seri horor Capcom ini sedang dalam kondisi bagus akhir-akhir ini. Jika proyek-proyek mereka ke depannya bisa menduplikasikan kualitas yang sama, ini adalah kabar bagus untuk kita semua.

Resident Evil 2

Teks terkait

Resident Evil 2Score

Resident Evil 2

REVIEW. Ditulis oleh Roy Woodhouse

Mereka bilang masa lalu lebih baik ditempatkan di masa lalu, tapi tidak untuk remake game horor klasik dari Capcom ini.



Loading next content