CD Projekt Red, EA, Embracer Group, Microsoft, People Can Fly, Remedy Entertainment, Techland, The Pokémon Company, Ubisoft dan Unity adalah beberapa perusahaan video game yang telah mengecam Rusia setelah penyerangan mereka terhadap negara tetangganya, Ukraina, melalui pengiriman bantuan dan pemberian sanksi.
Sekarang sebuah perusahaan raksasa lainnya telah memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menekan rezim Putin, yakni Activision Blizzard. Mereka telah membagikan sebuah <a href="https://activisionblizzard.com/newsroom/2022/03/supporting-the-ukrainian-people" title="Activision Blizzard supports the Ukrainian people" target="_blank">pernyataan</ a> yang berbunyi:
"Hari ini, kami mengumumkan bahwa Activision Blizzard akan menangguhkan penjualan baru dan penjualan dalam game kami di Rusia sementara konflik ini berlanjut. Kami akan terus mencari cara untuk mendukung rakyat Ukraina. Saya ingin meyakinkan Anda bahwa keamanan karyawan kami adalah prioritas utama tim kepemimpinan kami. Kami melakukan segala yang kami bisa demi membantu para karyawan, dan keluarga mereka, yang terkena dampak langsung dari tragedi ini."
Tapi pengumuman bukan hanya tentang mengkuhum Rusia, karena mereka juga menggalang dana untuk tujuan ini dan membantu dengan cara lain, terutama di Polandia:
"Perusahaan kami mencocokkan sumbangan karyawan 2:1 ke organisasi yang memberikan bantuan langsung di wilayah tersebut. Kami bersama-sama telah mengumpulkan lebih dari $300.000 dalam upaya ini. Minggu depan kami berencana untuk menambahkan badan amal tambahan untuk dipertimbangkan sebagai pilihan tamabahn dan juga akan meningkatkan batas pencocokan perusahaan dari $1.000 hingga $10.000.
Saya juga ingin memuji kontribusi luar biasa dari rekan-rekan kami di Polandia; orang-orang telah merelakan waktu mereka untuk membantu pengungsi Ukraina dan orang lain yang membutuhkan. Kami terus bekerja sama dengan mereka untuk menemukan cara agar kami dapat lebih membantu upaya ini. Kami mendukung rakyat Ukraina dan akan memberikan kabar terbaru tentang tindakan baru apa pun yang kami ambil seiring berlanjutnya krisis ini."