Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
review
Warcraft III: Reforged

Warcraft III: Reforged

Kejatuhan Arthas tak sebanding dengan apa yang terjadi dengan Blizzard. Inilah review kami atas Warcraft III: Reforged.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Terkadang ada sebuah game baru yang secara tak terduga mendapatkan begitu banyak kritikan, di mana kebanyakan orang dari berbagai komunitas membencinya, sehingga review formal rasanya sudah tidak perlu lagi. Itu telah terjadi kepada kami di Gamereactor beberapa kali. Metal Gear Survive, Fallout 76, dan Anthem. Warcraft III: Reforged, adalah satu lagi korbannya.

Mungkin karena konten asli dari game ini - sebuah real-time strategy tak lekang oleh waktu yang berfokus pada kepahlawanan dramatis, sebuah campaign berlapis, dan konten buatan pemain - sudah dikenal oleh banyak orang, maka sulit untuk tidak melihat kondisi dari ketika remaster ini dirilis. Selama beberapa tahun terakhir, Blizzard telah berulang kali melakukan komentar yang kontroversial dan memancing kritikan. Terdapat kasus Diablo Immortal, tentu saja, sebuah pengumuman yang memotong nilai saham perusahaan menjadi setengahnya. Sejak itu, Blizzard juga menjadi sorotan media terkait seorang pemenang turnamen yang kritis. Kini, kita dapat menambahkan Warcraft III: Reforged ke dalam daftar kejadian sial yang terjadi kepada studio dan penerbit legendaris tersebut.

Warcraft III: Reforged
Warcraft III: ReforgedWarcraft III: Reforged

Di sini, kami tidak menilai dari kontroversi yang telah terjadi, apalagi kami tidak begitu mendalaminya. Namun, setiap pembicaraan mengenai Warcraft III: Reforged pastinya, dan tak dapat dihindarkan, akan berfokus bukan pada gamenya tetapi pada developer dan penerbitnya, dan bagaimana kondisi mereka akhir-akhir ini. Lebih dari studio apapun, Blizzard membutuhkan sebuah kesuksesan untuk menegasi basis penggemarnya yang kian skeptis.

Tapi ternyata bukan itu yang terjadi, karena Warcraft III: Reforged benar-benar sebuah kekecewaan besar. Dari kesan pertama, game ini tampak seperti sebuah remaster standar dengan grafis baru dan infrastruktur jaringan baru. Namun, kesan pertama begitu menipu. Di mana kami harus memulai? Game ini dipenuhi oleh segudang masalah teknis, UI yang penuh nostalgia itu terlihat monoton, dan pembaruan grafisnya terlihat setengah jadi dan tak akurat dengan semesta game, dan opsi online telah diturunkan hingga hampir minimum.

Warcraft III: Reforged
Warcraft III: ReforgedWarcraft III: Reforged

Warcraft III menarik ke banyak orang karena berbagai hal, tapi mari kita bedakan untuk masing-masing tipe pemain. Pertama, ada orang yang menyukai petualangan di campaign-nya yang kaya akan narasi dan karakter. Grup ini akan merasa kecewa karena versi baru ini bukanlah sebuah interpretasi yang menarik, tetapi adalah sebuah campaign lama dengan grafis yang mendapatkan sedikit sentuhan baru. Peningkatan visualnya bahkan tak begitu bagus karena tingkat detail di dalam game sangat bervariasi, membuat unit di dalam game gagal untuk membaur seperti di versi aslinya.

Jelas bahwa beberapa aspek telah diubah sementara aspek lain dibiarkan begitu saja. Campaign itu sendiri, salah satunya, menggambarkan eksodus Thrall dari kerajaan timur ke Kalimdor dan kejatuhan Arthas Menethil dari kemanusiaan. Ini adalah inti yang bagus untuk dikembangkan. Sayangnya, kami menemukan kedua arc di campaign ini terkorupsi di sekitar misi ketiga dan keempat. Sebuah masalah yang pelik, itu sudah pasti.

Warcraft III: Reforged
Warcraft III: Reforged

Grup kedua terdiri dari mereka yang senang bermain dalam permainan online di mana strategi dan kecepatan reaksi adalah kunci. Bagi mereka, sebuah layanan online medioker menunggu. Di sini kita mendapatkan sebuah modul versus sederhana di mana kamu bisa mengantre untuk melawan pemain lain tanpa ranking atau filter pencarian tingkat tinggi. Tak banyak yang telah dilakukan untuk membuat pertandingan online game ini yang brutal lebih mudah diakses untuk pemula atau veteran yang sudah lupa pula. Perilisan ulang dari sebuah game strategi klasik lain, sebut saja Age of Empires 2, juga tidak tanpa masalah, tetapi developernya pada akhirnya menambahkan sebuah modul pelatihan yang sederhana namun sangat berharga sebagai pengantar ke aspek online game tersebut yang bertempo tinggi.

Grup ketiga, tentu saja, adalah pemain yang mencintai (dan semoga saja masih bisa mencintai) Warcraft III berkat konten buatan pemain dan peralatan yang tersedia untuk hal itu. Untuk grup ini, peraturan pengguna baru yang ketat dan implikasinya terhadap tak hanya aspek legal dan finansial, tetapi juga aspek kreatif dan sosial akan mengecewakan. Kami senang bahwa kami bisa sekali lagi bermain-main di Wintermaul dan Tower Wars, konsep game yang pertama kali lahir di Warcraft III asli. Berapa banyak modifikasi game baru, berkenang, dan menarik yang akan pengguna buat di Reforged? Asumsi kami, tak banyak.

Warcraft III: Reforged
Warcraft III: Reforged

Untuk merangkum, Warcraft III: Reforged akan mengecewakan setiap grup penggemar, mulai dari kebohongan promosi dan pembaruan grafis medioker, hingga masalah teknis dan peraturan yang membatasi kreativitas. Kami masih bisa memberikan pujian, penghormatan, dan cinta kepada game atas intinya yang masih fenomenal yang tertimbun di bawah puing-puing janji yang tak ditepati, tetapi itu saja. Bagian dari game yang hampir dua dekade setelah peluncuran awalnya masih menarik, meski dirilis ulang dalam bentuk yang buruk. Ini jauh dari harapan orang-orang atas kualitas yang biasanya disajikan Blizzard.

Warcraft III: ReforgedWarcraft III: Reforged

Warcraft III: Reforged adalah sebuah pekerjaan buruk dan setiap kata yang kami tuliskan di sini membuat kami semakin sedih. Game ini adalah sebuah perilisan ulang yang hampa dari salah satu game paling berkualitas di zamannya. Game ini benar-benar membantu membawa Blizzard menjadi developer ternama bertahun-tahun lalu, dan remaster ini tak dapat menghormati itu. Ini adalah sebuah tiruan yang lemah dan tambahan-tambahannya terasa kurang dan kekurangannya tak dapat dipahami. Jika Warcraft III: Reforged adalah sebuah kopi dari game aslinya dengan resolusi dan frame rate lebih tinggi, maka hasilnya setidaknya lebih praktis, meski tidak ambisius.

Untuk sekarang, Warcraft III: Reforged bahkan tidak menawarkan hal itu. Ini adalah sebuah kesempatan emas untuk memperkenalkan kembali game klasik ke pemain baru dan lama yang diabaikan oleh Blizzard. Dan lebih pentingnya lagi, sebuah kesempatan yang terlewatkan untuk menaikkan nama mereka yang telah ternoda selama beberapa tahun terakhir.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
03 Gamereactor Indonesia
3 / 10
+
Pengalaman intinya masih ada.
-
Tak terasa seperti Warcraft III, grafis yang kasar, tidak ambisius, tidak pantas menyandang nama Warcraft.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait

Warcraft III: ReforgedScore

Warcraft III: Reforged

REVIEW. Ditulis oleh Magnus Laursen

Kejatuhan Arthas tak sebanding dengan apa yang terjadi dengan Blizzard. Inilah review kami atas Warcraft III: Reforged.

Warcraft III Reforged - Impresi Pertama

Warcraft III Reforged - Impresi Pertama

PREVIEW. Ditulis oleh Magnus Laursen

Kami telah menaklukkan Wintermaul, dihajar habis-habisan dalam Versus, dan berpindah ke Kalimdor bersama Thrall. Ini adalah impresi pertama kami dari RTS Blizzard yang kembali hadir.



Loading next content