Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
review
The Church in the Darkness

The Church in the Darkness

Paranoid Productions telah menciptakan surga di tengah hutan tetapi bisakah kamu masuk dan keluar dari Freedom Town hidup-hidup?

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Game kadang-kadang merupakan sebuah perpaduan aneh dari cerita yang serius dengan semacam mainan. Kami ingin bersenang-senang di saat bermain, tetapi di lain pihak, kami juga mengharapkan sebuah cerita yang sama baiknya dengan bagian yang lain. Pada kebanyakan kasus, kita bisa mengabaikan hal-hal seperti tema maupun cerita jika gameplay dari game itu sendiri menyenangkan. Lagipula, sepertinya prioritas pertama bagi para developer adalah untuk menghibur basis pemain mereka. Inilah alasannya jika kami sedikit heran ketika ada developer yang menciptakan sebuah game berdasarkan sebuah tragedi nyata.

The Church in the Darkness mungkin tidak secara langsung berdasarkan pada sebuah kejadian dalam sejarah, tetapi terinspirasi oleh People's Temple dan tragedi di Jonestown. Bersetting di tahun 1970-an, kamu bermain sebagai Vic, yang sedang bepergian ke Amerika Selatan untuk bertemu dengan keponakannya Alex dan memastikan dia dalam keadaan baik. Alex telah bepergian dengan sebuah aliran religius bernama 'Collective Justice Mission' dan membantu mereka menciptakan sebuah komunitas independen di dalam hutan yang disebut 'Freedom Town', didirikan oleh Rebecca Walker. Sebagai pemain, misimu adalah untuk menyusup ke dalam aliran tersebut dan menemukan keponakanmu, tetapi kamu bisa memutuskan bagaimana kamu akan melaksanakan pekerjaan itu dan apakah kamu memutuskan untuk membawanya kembali ke rumah. Game ini bangga akan desain narasi dinamis dan terbuka yang dimilikinya, di mana motivasi bagi karakter berbeda setiap kali kamu bermain dan di mana ceritanya berkembang tergantung pendekatan apa yang kamu ambil. Untuk sebuah game indie kecil, idenya cukup menarik dan ambisius, tetapi mengenai apakah itu berjalan dengan baik atau tidak, jawabannya iya dan tidak, tapi kami akan segera kembali membahasnya.

The Church in the Darkness
The Church in the DarknessThe Church in the Darkness

Game ini adalah sebuah 'action infiltration game' yang jika sekilas mirip seperti sebuah perpaduan antara game-game GTA sebelum 3D yang lama dan game-game strategi seperti Commandos atau Desperados. Kamu bisa memilih apakah kamu akan menyelinap masuk ke kota, melaju dengan menembaki semua orang, atau melakukan perpaduan antara keduanya. Para penjaga memiliki corong berwarna yang menunjukkan area pandangan mereka dan selama kamu berada di luarnya, kamu aman (tentu saja kecuali kamu mulai mengeluarkan suara). Komunitas kecil dari Freedom Town memiliki kecurigaan yang sangat besar terhadap orang asing, jadi kamu akan menimbulkan kewaspadaan jika kamu terlihat, kecuali jika kamu ditembak di tempat atau ditawan. Kamu bisa membunuh musuh dengan berbagai cara, dan game ini membuka opsi ini sejak awal, dan tidak ada hukuman atau reward untuk memilih sebuah metode dibandingkan yang lainnya, dan begitupun sebaliknya. Seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, karakter-karakter dalam game dan juga narasinya bereaksi terhadap pilihan-pilihanmu, membuatmu ingin mengejar metode yang lain untuk mendapatkan hasil yang berbeda.

Akan tetapi, kamu tidak bisa menghindar untuk menyelinap sampai batasan-batasan tertentu. Kamu bisa menemukan beragam senjata, tetapi amunisinya terbatas, terjadi jika kamu menembak setiap apa yang bergerak, tidak akan lama sebelum kamu kehabisan amunisi dengan setengah dari penduduk kota mengejarmu. Karena itu, kamu harus siap untuk berimprovisasi dan memikirkan kembali rencana-rencanamu, terutama ketika semuanya berjalan dengan baik. Perlu disebutkan juga bahwa bidikannya tidak begitu akurat dalam pertempuran jarak jauh. Itu tidak menjadi masalah jika kamu hanya berkeliling saja, tetapi kita mempunyai masalah selalu ada setiap waktu untuk menembak kita di bagian kepala dengan shotgun mereka, hanya untuk membidik ke semua arah kecuali arah yang tepat.

Kamu akan segera menyadari bahwa kamu bisa bergerak cukup bebas di antara musuh-musuh selama mereka tidak melihatmu. Kamu bisa berada sangat dekat dengan mereka bahkan berjalan langsung melewati sekelompok besar tanpa membuat siapapun waspada. Kamu bisa mencekik seseorang tepat di samping orang lainnya, dan jika corong visual mengarah ke arah yang lain, mereka tidak akan mendeteksi sama sekali. Itu terdengar tidak realistis, dan memang begitu, tetapi dalam konteks gameplay, itu tidaklah masalah. Kamu segera mempelajari apa peraturannya, dan peraturan-peraturan tersebutlah yang memberikan tantangannya.

Itu bukanlah permasalahan AI secara spesifik, tetapi lebih merupakan sebuah definisi mengenai sebuah cara untuk bermain, yang memberitahumu opsi-opsi yang kamu miliki. Akan tetapi, kadang-kadang terasa konyol ketika kamu berkali-kali memancing sekelompok penjaga dengan sebuah lemparan batu, mencekik mereka satu per satu tanpa membuat curiga yang lainnya (tetapi dalam hal itu, game-game seperti Hitman dan Assassin's Creed juga serupa). Pada sebuah playthrough, kami membunuh 207 orang penduduk Freedom Town. Game ini pada akhirnya memberitahu kami mengenai angka tersebut, tetapi tidak ada seorang pun yang bereaksi. Para NPC kembali ke pekerjaan mereka dan para penjaga melanjutkan obrolan mereka. Hal ini memang mengurangi sebagian kredibilitas game ini.

The Church in the Darkness
The Church in the DarknessThe Church in the Darkness
The Church in the Darkness
The Church in the DarknessThe Church in the Darkness
The Church in the Darkness
The Church in the DarknessThe Church in the Darkness