Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Gamereactor
review
Life is Strange: True Colors

Life is Strange: True Colors

Deck Nine Games telah menulis ulang dasar-dasar dari Life is Strange dan menghasilkan salah satu edisi terbaiknya.

HQ

Hidup memang aneh, semua orang tahu itu. Kita tumbuh, belajar dari kesalahan, mendapatkan kemampuan baru tanpa terasa kita sudah menjadi dewasa. Pepatah ini berlaku pada setiap orang, dalam perjalanan yang rumit dari remaja hingga dewasa. Ini juga berlaku untuk Life is Strange: True Colors, babak baru dari seri video game populer dari Dontnod, yang juga telah dikerjakan oleh Deck Nine Games beberapa tahun ini. Yang juga menghidupkan Life is Strange: Before the Storm, sebuah spin-off dari babak pendahulunya.

Tidak hanya menghadirkan iterasi baru, serta karakter, kisah, dan kekuatan baru, episode ketiga ini juga mewakili sebuah langkah pendewasaan untuk saga ini. Tidak hanya dari segi teknis dan grafis yang terlihat jelas dari trailer, namun dari segi bagaimana pendekatan yang dilakukan oleh Deck Nine terhadap narasi beserta mekanik yang menarik. Namun apakah True Colors sanggup menandingi episode pertamanya yang berhasil memulai ini semua? Mari kita cari tahu.

Life is Strange: True Colors

Emosi adalah yang menghidupkan warna baik itu positif maupun negatif. Ini menjadi tema dasar dari True Colors yang juga merepresentasikan kekuatan supernatural dari Alex Chen yang dapat ia kuasai. Alex mampu melihat aura orang lain, merasakan emosi dan memanipulasinya. Seperti banyaknya anak muda lainnya, ia harus melalui kesulitan dalam hidup. Setidaknya untuk mengaturnya. Kita telah jauh meninggalkan kekhawatiran remaja yang dialami Chloe, Max, dan Rachel pada game awal. Meski masih menghadirkan drama remaja di dalamnya, True Colors tetap berakar pada konsep dewasa, dengan kemampuan untuk memaafkan, terutama memaafkan diri sendiri.

Mari kita mulai dari awal. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kita bermain sebagai Alex Chen, pemberontak muda yang baru saja keluar dari institusi adopsi yang rumit dan siap untuk memulai hidup barunya. Tanpa ada yang mengenalnya, apa yang pernah ia lakukan di masa lalu menjadi hal yang penting di hidupnya, terutama emosi. Untuk melakukan itu, Alex memilih Haven Springs, sebuah kota fiksi di Colorado di mana kakaknya Gabe tinggal, terpisah sejak bertahun-tahun lalu. Yang ternyata telah membangun hidupnya di sana setelah melalui sekolah anak nakal. Sebuah tempat di balik pegunungan dengan atmosfer yang ajaib, terasa sebagai tempat yang pas untuk memulai hidup baru bagi Alex. Ia memiliki apartemen baru, teman, pekerjaan, dan seorang kakak yang telah terpisah lama. Semua terasa akan berjalan dengan baik.

Namun semua berubah ketika Gabe meninggal karena sebuah kecelakaan. Sebuah kejadian yang mengenaskan yang menggetarkan seisi kota Haven, terutama Alex. Untuk mengesampingkan rasa sakit akan kehilangan seorang kakak, Alex bersama beberapa temannya (Steph dan Ryan) memutuskan untuk menggali dalam akan kecelakaan yang terjadi karena dirasa adanya kejanggalan. Berkat kemampuannya untuk membaca emosi, Alex yakin mampu mengungkap kebenaran yang terjadi dan akhirnya menghadapi dirinya sendiri.

Life is Strange: True ColorsLife is Strange: True Colors

Singkatnya, Deck Nine berhasil sekali lagi. Memang sub plot thriller-kriminal menjadi dalih naratif untuk berfokus pada hal lain, namun di saat yang sama menawarkan plot yang mengalir dan mengikat meskipun sederhana. Pemain tidak akan merasa bosan berkat pemeran dan karakter yang penuh kharisma diisi dengan pengisi suara ternama, dimulai dengan Alex Chen (diperankan oleh Erika Mori), yang memberikan kepribadian menarik pada karakter yang terasa anonim namun dapat membuatmu kehilangan akal di tiap babak. Sangat tidak mungkin untuk tidak menyukai Alex, serta Steph yang mempesona dan Ryan yang menyenangkan (serta pemeran pendukung lainnya). Jika benar bahwa True Colors tidak jauh berbeda dari babak sebelumnya perihal keterlibatan emosi, proyek baru Deck Nine mengharapkan sesuatu yang beda, tidak hanya untuk membuktikan bahwa mereka mendengarkan para penggemar beserta kritik yang diberikan, namun juga memberi hidup baru pada produk yang mulai terasa kaku.

Life is Strange: True ColorsLife is Strange: True Colors

Namun tidak semua inovasi yang dihadirkan dapat disukai, namun mari kita bahas dahulu dari hal berikut. Perbedaan paling besar dari True Colors dengan pendahulunya adalah struktur narasinya. Meski game masih membagi bagian sebagai babak, keunikannya yang membedakan Life is Strange menghilang, yaitu seri episode. Tidak ada lagi akhir episode yang menggantung, tidak ada lagi ketegangan yang membayangi saat menunggu episode selanjutnya yang biasanya dirilis berbulan-bulan setelahnya.Seperti serial TV yang menjadi inspirasi dari game ini yang telah mengalami perubahan besar dalam narasi dan format gimmick, True Colors akan dirilis dalam satu musim sekaligus. Seperti produk serial yang kita biasa nikmati dalam Netflix.

Di sisi lain, di sini pemain mendapatkan kendali bebas untuk menentukan berapa babak yang ingin mereka mainkan (dengan durasi rata-rata 2 hingga 3 jam per episode). Secara pribadi saya tidak terlalu suka akan solusi ini, karena hal tersebut yang membedakan Life is Strange dari game lainnya. Kenapa harus menghilangkan yang menjadi tulang punggung dari seri ini yang membuatnya terasa original? Ada pula eksplorasi yang memberikan kesempatan untuk menjelajah kota Haven Springs yang kecil. Saat game ini pertama kali diumumkan, Deck Nine mengatakan bahwa mereka akan memberi pemain kebebasan untuk berkelana dan mengungkap rahasia dan dialog baru untuk mendalami kisah tiap karakter dari Haven Springs. Sangat disayangkan hasilnya kurang memuaskan, memang menjadi pengalihan yang baik, adanya perburuan harta karun, serta cara untuk melatih kekuatan Alex, namun dinamika ini tidak menawarkan banyak hal. Memang memberikan kemungkinan untuk dimainkan kembali pada tiap episode - seperti mekanika pilihan yang masih hadir (tentu dengan dampak lebih besar) - namun tidak memuaskan seperti yang dibayangkan.

Life is Strange: True Colors

Namun hanya sebatas itu kritik kami untuk Life is Strange: True Colors yang merupakan sebuah game menakjubkan. Secara visual, kota Haven Springs sangat kaya dalam detail dengan pencahayaan yang cermat. Pemain tidak akan merasa bosan saat menjelajah, karena betapa hidupnya lingkungan sekitar. Ini juga berkat fitur-fitur baru yang menarik, dari yang kecil seperti misi sampingan yang opsional (dalam bentuk dialog), yang memungkinkan kamu untuk mengubah interaksi Alex serta hubungannya dengan beberapa NPC. Sebuah trik yang dapat kamu gunakan untuk menjalin hubungan personal dengan dunia ini, yang sangat direkomendasikan untuk dieksplor. Berhubungan dengan ide-ide baru dan original, perhatikanlah babak ketiga, karena menjadi babak yang paling menyenangkan dan inovatif yang pernah dimainkan dengan adanya meta-tekstualitas.

Sebagai tambahan lainnya, tersedia kabinet arcade yang dapat dinikmati untuk memainkan game hit-and-run seperti Arkanoid atau Mine Haunt! (sebuah mini game 8-bit yang dibuat khusus oleh Deck Nine). Dibandingkan dengan pendahulunya, True Colors memberikan kedalaman berbeda dengan segala pilihan yang kita ambil, sistem pilihan biner tidak membuka mekanisme terstruktur berlapis yang memberikan lebih banyak penutup, namun justru membuat cerita lebih mengalir, lebih koheren dan lebih personal dibanding sebelumnya. Di sinilah kita melihat tumbuhnya seri Life is Strange menjadi produk yang mendewasa. Menyadari akan keterbatasannya dalam pendahulunya yang telah menjadi pelajaran dan melakukan apapun untuk memperbaikinya. Bahkan tiap pilihan yang ditentukan menjadi sesuatu yang sangat penting. Sama seperti Alex yang memiliki kekuatan untuk mengontrol emosi, kita juga mengalami perasaan akan kuasa untuk mengendalikan suasana permainan dan membangun pengalaman bermain sesuai dengan cara kita sendiri.

Musik selalu menjadi inti dari emosi dalam seri Life is Strange, dalam True Colors musik menjadi unsur yang esensial. Bukan hanya karena Alex memiliki hubungan penting dengan musik, namun musik juga mendiktekan kita akan ritme dan alur dari cerita tanpa menjadi gangguan. Selain hits pop / rock yang terkenal, soundtrack dari Angus & Julia Stone menjadi musik yang paling intens dan terbaik dalam seri ini. Momen-momen Zen, momen kecil yang memberikan nafas untuk para pemain menjadi bagian yang tidak terpisah, dan musik menjadi bagian yang esensial dan elemen penting.

Life is Strange: True Colors merupakan game yang sangat mudah dinikmati. Meski Deck Nine mencoba untuk menulis ulang dasar-dasar dari franchise ini, membalikkan niat awal, ternyata justru menciptakan seri Life is Strange terbaik kedua dalam sejarah untuk beberapa alasan. Selain menghadirkan cerita yang dewasa, yang menjadi pendukung adalah penggunaan sistem pilihan yang lebih berpengaruh, karakter ditulis dengan sempurna, membuat kita sulit untuk tidak terikat pada cerita. Penggunaan musik dengan baik, digabung dengan solusi meta-tekstual perihal gameplay, membuat Life is Strange: True Colors menjadi babak terbaik dari seri ini.

HQ
Life is Strange: True ColorsLife is Strange: True ColorsLife is Strange: True Colors
09 Gamereactor Indonesia
9 / 10
+
Cerita yang lebih dewasa dan menarik. Karakter-karakter dengan penulisan baik. Performa brilian dari para aktor. Soundtrack keren. Beberapa ide brilian dalam hal gameplay.
-
Ia kehilangan struktur narasi dalam bentuk serial. Eksplorasi kurang dikembangkan. Beberapa bug kecil.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait



Loading next content