Indonesia
Gamereactor
review
Immortals: Fenyx Rising

Immortals: Fenyx Rising

Kami telah terbang melesat di angkasa di Immortals: Feny Rising, tapi bisakah kami sampai di surga gaming, atau gamenya berakhir jatuh terbakar seperti si malang Icarus?

Walau perilakunya biasanya mudah ditebak, Ubisoft adalah perusahaan yang terkadang suka
juga mengejutkan kita. Di 2014 mereka merilis game platformer-RPG Child of Light yang begitu menyenangkan dan di tahun 2000-an mereka merilis sejumlah IP baru yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari genre masing-masing. Maka, pertanyaannya adalah - apakah IP terbaru mereka, Immortals: Fenyx Rising, merupakan awal yang baru bagi Ubisoft atau sekadar rumus open world mereka sekarang dengan tampilan baru?

Dikembangkan oleh Ubisoft Quebec, Fenyx: Rising merupakan pengembangan dari game mereka sebelumnya, Assassin's Creed Odyssey. Sekali lagi Yunani Kuuno menjadi latarnya, tapi jika Odyssey mencontek beberapa halaman dari legenda klasik, Immortals mencuri satu perpustakaan sekaligus. Dunia ini langsung diambil dari karya-karya Homer dan Virgil. Dunia yang dahulunya dihuni manusia, kini dikuasai hydra dan harpy. Dan sepanjang gamenya kamu akan berkesempatan menghadapi mereka semua - berkali-kali, bahkan.

Immortals: Fenyx Rising

Kamu bermain sebagai Fenyx, seorang penutur kisah muda yang terkadang mengusung perisai di pasukan saudara laki-lakinya (kamu bisa bermain sebagai karakter pria maupun wanita, saya memilih wanita karena lebih menyukai voice acting-nya). Kapalnya terhempas oleh badai dan Fenxy pun terdampar di Golden Isle, sebuah pulau menakjubkan yang berisi keajaiban namun juga bahaya. Tidak lama kemudian dia mendapati saudaranya dan serdadu lainnya telah berubah menjadi batu, dan di prolognya yang keren kamu juga mengetahui siapa pelakunya - monster purbakala Typhon.

Typhon telah kabur dari jantung Tartarus dan melepaskan monster dari alam bawah. Tidak hanya itu, ia juga telah mengutuk semua manusia menjadi batu, mengubah para dewata dengan merenggut esensi mereka, dan bahkan membuat pahlawan legendaris seperti Achilles dan Odysseus menjadi pelayan setianya. Kamu pun harus mengembalikan para dewa ke wujud asli mereka, menyatukan Olympus kembali, dan akhirnya mengirim Typhon kembali ke lubang neraka di bawah sana.

Ada beberapa kejutan menarik menjelang akhir, dan cukup seru juga membantu para dewa yang sedang lunglai seperti Aphrodite yang dikutuk menjadi pohon, atau Ares, dewa perang yang berapi-api, yang kini berwujud ayam jago yang pengecut. Tapi ceritanya sendiri tidak spesial. Namun, yang membantunya adalah humor yang hebat. Semua petualanganmu dinarasikan oleh Zeus dan Prometheus, yang siap menyajikan komentar jenaka tentang berbagai upayamu, dan Zeus yang begitu arogan berhasil mencuri perhatian. Ini bukan kisah tragedi Yunani yang biasa kita lihat di game seperti God of War, namun merupakan satir yang dipenuhi candaan tentang gamenya sendiri. Terkadang nuansanya agak 'panas' dan orang dewasa kemungkinan bisa menikmati lelucon nakal dan referensi ke mitologi Yunani, sedangkan anak-anak bisa terhibur oleh karakternya yang menarik dan situasi-situasi ganjil yang ditemui. Cerita di video game sangat jarang berhasil meraih keduanya, dan para penulisny layak dipuji, walaupun humornya menjadi agak melelahkan menjelang akhir.

Immortals: Fenyx Rising

Sebagai balasan dari bantuanmu, para dewata dan tokoh legenda masa lalu telah meninggalkan beberapa peralatan praktis yang bisa kamu temukan dalam sejam pertama. Sayap Daedalus memungkinkanmu melakukan double jump dan, belakangan, melayang di udara. Pedang Achilles dan kapak Atalanta menjadi senjata untuk serangan ringan dan berat, sedangkan busur Odysseus memberikan variasi dengan serangan jarak jauh. Pertarungannya umumnya sangat mengalir dan dipermanis oleh efek visual yang keren. Favorit saya adalah finisher (gerakan penghabisan) yang seringkali meluncurkan monsternya ke kaki langit dengan efek asap agar lebih jenaka. Sayangnya, walau dunianya memiliki ragam lingkungan yang bervariasi, musuhnya cenderung sama. Mereka paling-paling berubah warna atau membesar, tetapi pola serangannnya tetap sama. Di akhir game, kamu akan merasa agak lelah melawan babi hutan, harpy, dan pasukan mayat hidup yang sama lagi dan lagi.

Unsur gameplay utama lainnya selain pertarungan adalah puzzle. Dan di sini variasinya jauh lebih baik. Kamu akan menemukan puzzle baik di overworld maupun di bangunan vault yang berperan sebagai dungeon seperti di Zelda dan berisi puzzle di lingkungannya. Dengan memanfaatkan beberapa unsur yang kuat, para pengembangnya berhasil membuat puzzle hebat yang akan membuatmu memutar otak, tapi tidak sampai jengkel karena frustrasi. Kamu akan melontarkan bola, menginjak plat bertekanan, menembakkan anak panah ke saklar, dan semua unsur klasik dungeon. Bagian terbaik dalam puzzlenya adalah mereka tidak pernah menghentikan aksinya. Kamu masih akan melompat dan berpindah tempat untuk memecahkannya. Dungeon terpanjang yang dipenuhi puzzle akan memakan waktu sekitar sejam untuk diselesaikan, tapi kamu bisa berhenti kapanpun jika merindukan kebebasan dunia luar.

Selain bertarung seperti Herkules dan memecahkan puzzle yang akan meraih pujian dari Aristoteles, kamu juga bisa terbang seperti...Icarus? Ya, dunia open world di Immortals: Fenyx Rising sungguh menyenangkan untuk dijelajahi, tapi awalnya tidak mudah untuk berkeliling karena staminamu terbatas, dan saya berkali-kali jatuh dan mati konyol karena kehabisan energi di tengah angkasa (kamu bisa melayang untuk mendarat secara aman tanpa stamina, tapi saya baru sadar setelah beberapa waktu). Ya, seperti di The Legend of Zelda: Breath of the Wild, stamina diperlukan untuk hampir semua tindakan seperti memanjat, melompat, atau menggunakan kekuatan khusus, dan sistem ini bekerja baik dalam memberikan kamu mobilitas tambahan setelah staminamu meningkat, tapi juga agak membatasi kelakuanmu, agar gamenya tidak menjadi Just Cause.

Immortals: Fenyx Rising

Kamu pun pasti ingin menjelajah karena dunia Fenyx Rising begitu memanjakan mata. Kuil kuno yang tertutup tanaman, patung yang dipahat dengan cantik, monster-monster yang dirancang dengan baik sehingga menjadi seram namun sekaligus imut - arahan artistiknya secara keseluruhan sangat memukau. Kalau dilihat dekat, beberapa teksturnya memang terlihat agak, yah, kuno, dalam artian kurang detail, tapi karena game ini juga dirilis untuk Nintendo Switch, saya tidak akan mengeluh terlalu banyak. Saya merasa voice acting dalam game sangat bagus dan disampaikan dengan baik, dan walau musiknya tidak terlalu berkesan, musiknya dapat memberikan nuansa dengan baik.

Tetap saja, gamenya terlihat paling bagus saat dilihat dari jauh. Patung raksasa menjulang di ufuk, dan saat kamu mencapai puncak kamu bisa melihat pulau yang memukau tersebut dengan semua daya tariknya. Kamu juga bisa mengecek daerah yang berbeda untuk mencatat berbagai rahasia ke petamu, dan walau ini jelas merupakan upaya Ubisoft agar kita lebih tenggelam dalam dunianya, sistem ini tidak begitu berjalan baik. Petanya sesak dipenuhi ikon dan walau sebagian besar tantangannya seru dan singkat seperti menembakkan panah melewati lingkaran, melawan bos, atau berlomba melawan waktu untuk mencapai tujuan yang jauh, terkadang ia agak terasa seperti MMO offline.

Immortals: Fenyx Rising

Ya, ini memang game Ubisoft sekali, dan strukturnya tidak begitu berhasil dari beberapa sisi. Semua yang kamu lakukan mendapat hadiah, yakni perlengkapan baru atau sejumlah dari salah satu mata uang gamenya yang ada begitu banyak ragam. Saya menghitung ada tujuh macam rubi, permata, atau koin yang bisa kamu gunakan untuk memberikan upgrade ke nyawa, potion, senjata, dan sebagainya. Ini menjadikan gamenya agak grindy, tapi masalah utamanya adalah cara kita membuka kemampuan. Di game RPG, cukup umum kalau kita mengkhususkan diri ke peran tertentu, tapi di game action-adventure seperti ini, variasi adalah kunci. Dan sayangnya cara gamenya melakukan upgrade membuatmu terkunci ke gaya bermain tertentu. Tapi sekalipun kamu bisa membeli semuanya, tidak ada banyak kemampuan atau kombo pertarungan yang bisa dibuka.

Di awal, saya menggabungkan gerakan berguling dengan tangkisan dengan waktu yang tepat, memadukan tusukan jarak dekat dengan ayunan kapak yang dahsyat, dan menembakkan panah ke segala arah. Di akhir, saya hanya mengandalkan pedang andalan saya yang sudah saya upgrade maksimal, menggunakan satu saja kemampuan yang paling dahsyat, dan sudah tidak menangkis sama sekali karena sudah meningkatkan daya mengelak saya. Sangat disayangkan bahwa pilihan saya dalam pertarungan malah terasa lebih terbatas. Dan antarmuka untuk upgrade betul-betul terasa seperti game mobile yang free-to-play. Saya sama sekali tidak merasa game ini licik, tapi aspek ini seharusnya bisa dikelola dengan jauh lebih baik.

Satu hal lagi yang patut dicatat adalah gamenya berjalan dengan sangat lancar. Saya memainkannya di Xbox One X, dan selain waktu loading yang relatif pendek (yang saya bayangkan pasti lebih baik lagi di perangkat next-gen), saya tidak merasakan satu bug sekalipun di waktu bermain saya yang mencapai 25 jam. Tidak satu pun! Ada beberapa glitch grafik seperti aset yang lama dimuatnya di satu atau dua cutscene, tapi tidak terlalu mencolok. Satu-satunya penjelasan untuk mukjizat ini pastilah Ubisoft melibatkan dewa sungguhan dalam produksi game ini.

Immortals: Fenyx Rising

Walaupun ia tidak sempurna, Immortals: Fenyx Rising adalah game yang hebat. Ia merupakan salah satu dari sedikit game yang sungguh seru untuk dimainkan segenap keluarga. Anak-anak akan tertawa ke humor fisiknya dan menikmati pertarungannya yang sederhana, sedangkan orang tua bisa merasa cerdas saat memahami semua (atau sebagian) referensi mitologinya dan membantu memecahkan puzzle. Game ini patut dipuji karena berhasil meraih keseimbangan yang hebat ini, dan saya sangat merekomendasikannya untuk keluarga-keluarga yang mencari game seru untuk dimainkan bersama selain game-game LEGO.

Di sisi lain, kalau kamu seorang gamer yang lebih berumur, kamu mungkin menemukan beberapa kekurangan dalam game ini. Sistem progres kemampuan karakternya menjadikan pilihanmu terbatas dan gameplaynya secara keseluruhan mungkin agak sederhana. Tetap saja, kalau kamu lumayan tertarik dengan mitologi Yunani dan belum jenuh dengan rumus game ala Ubisoft, kamu akan banyak terhibur oleh game yang satu ini. Tapi jangan berharap melihat sesuatu yang belum pernah kamu temui sebelumnya.

08 Gamereactor Indonesia
8 / 10
+
Penceritaan yang menarik. Mekanisme pertarungan utamanya mantap. Puzzle yang sangat bagus. Dunia memukau yang seru dijelajahi. Tidak ada masalah teknis yang patut dibahas.
-
Banyak musuhnya hanya reskin. Sistem progres karakternya memaksamu memilih satu gaya bermain.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait

Immortals: Fenyx RisingScore

Immortals: Fenyx Rising

REVIEW. Ditulis oleh Jakob Hansen

Kami telah terbang melesat di angkasa di Immortals: Feny Rising, tapi bisakah kami sampai di surga gaming, atau gamenya berakhir jatuh terbakar seperti si malang Icarus?



Loading next content


Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.