Skip to main content
Review Final Fantasy VII: Remake

Final Fantasy VII: Remake Review

Salah satu game terbaik sepanjang masa telah dibuat lagi dari nol, tetapi apakah Remake ini mampu melangkah dari bayang-bayang game aslinya dari tahun 1997?
Andreas Juul 6 April 2020

Remake dan remaster adalah komoditi panas akhir-akhir ini. Pada tiga puluh hari terakhir saja sudah ada judul seperti Resident Evil 3 dan Call of Duty Modern Warfare 2 yang mendapatkan perlakuan seperti di atas. Setiap kali, para kritikus dihadapkan pada sebuah tugas yang sulit. Bagaimana kami mengulas tipe game seperti ini? Apakah mereka dilihat sebagai sebuah game tunggal ataukah harus mempertimbangkan game aslinya pula? Tergantung siapa yang kamu tanya, interpretasinya akan beragam. Namun, dalam hal Final Fantasy VII: Remake, kategori ini terasa lebih rumit dari biasanya, karena ia bukanlah sekadar remake saja, apalagi remaster.

Tidak, entri terbaru Square Enix di franchise Final Fantasy ini, di atas segalanya, adalah penggambaran ulang dari judul aslinya dari tahun 1997. Tentu, ia mengikuti narasi umum yang sama dan menghadirkan karakter yang sama pula yang sudah kita kenal dan cintai. Tetapi, Final Fantasy VII: Remake melampaui apa yang kita harapkan dari proyek serupa, tidak nyaman dengan menawarkan cerita yang sama dan mengolah kembali gameplay yang sudah terbukti dan terpercaya. Pendeknya, Final Fantasy VII: Remake adalah sebuah pengalaman yang sama sekali berbeda.

Mari kita mulai dari awal.

Sama seperti mahakarya dari PSX itu, Final Fantasy VII: Remake dibuka dengan adegan pengeboman oleh grup teroris Avalanche. Hal ini disusul oleh sebuah kejar-kejaran intens di jalanan Midgar oleh pasukan dari Shinra Corporation. Meski lebih panjang serta penuh cutscene dan event baru, beberapa jam pertamanya cukup setia dengan materi sumber. Kreator dari proyek remake, Yoshinori Kitase - yang sebelumnya mengepalai versi 1997 - memberikan fans lama tepat apa yang mereka inginkan. Sebuah versi PlayStation 4 yang lebih besar, lebih dikembangkan, dan paling penting, lebih cantik dari apa yang telah kita kenal dan cintai. Namun, adegan-adegannya sendiri sangat berbeda dari narasi aslinya. Alih-alih bergerak dari satu misi pengeboman ke misi pengeboman selanjutnya, Remake memperlambat temponya cukup banyak, mendedikasikan waktunya untuk menggambarkan hubungan antara karakter utama dengan para pemeran pendukung. Kali ini, sang karakter utama Cloud Strife memiliki apartemen di dekat kekasih masa kecilnya Tifa dan menghabiskan beberapa jam ke depan hidup sebagai tentara bayaran di daerah kumuh Midgar.

Terdapat sebuah perasaan kesunyian sebelum badai yang tidak tertahankan - terutama bagi mereka yang merasakan ceritanya pada 1997 lalu. Bagian dari game ini memungkinkan karakter-karakter sekunder dari Avalanche untuk bersinar, dengan Jessie lebih menonjol. Bahkan karakter-karakter lebih kecil seperti induk semang Cloud, Marle, atau Johnny yang terobsesi dengan Tifa menjadi lebih hidup di Sector 7 yang bobrok. Kami bisa menghabiskan halaman demi halaman menjelaskan perhatian terhadap detail dan karakter-karakter luar biasa yang kami temukan di sepanjang perjalanan Final Fantasy VII: Remake yang berdurasi 30+ jam di sepanjang 18 chapter. Setiap lokasi yang dikunjungi Cloud, apakah itu jalanan di Midgar atau gang-gang korup di Wall Market, memiliki suasana yang unik dengan berbagai karakter menarik - baik familier ataupun baru. Seiring dengan itu, remake ini juga meniru beberapa elemen dari game-game Naughty Dog yang berfokus pada narasi dengan mendedikasikan waktu untuk mengisi perjalanan karakter dari A ke B dengan dialog-dialog berisi sembari memecahkan bermacam puzzle sederhana. Salah satu yang berkesan adalah antara Aerith dan Cloud, yang memiliki beberapa momen bagus dan komikal bersama. Penggemar dari game yang bertumpu pada narasi akan menemukan banyak hal yang akan disukai di sini dengan aktor suara bahasa Inggris menghadirkan penampilan apik di seluruh aspek. Namun, bagi penggemar yang telah terbiasa dengan George Newbern yang mengisi suara Sephiroth di Kingdom Hearts dan Advent Children akan sedikit kecewa karena Tyler Hoechlin tidak begitu semenakutkan itu. Hal serupa juga bisa dikatakan terkait beberapa favorit fans yang tidak akan kami bocorkan di review ini.

Meski memperkenalkan banyak konten baru ke semesta ini, tidak diragukan lagi banyak penggemar yang akan memiliki perasaan campur aduk di bagian akhir dari game. Tanpa memasuki area spoiler, remake ini membuat sejumlah belokan di beberapa ceritanya menjelang akhir. Sebagai penggemar beratnya, kami pada umumnya menyukai babak ketiga. Namun, ada satu perubahan dalam cerita yang sangat tidak kami setujui. Meski ketidakpuasan kami, hal itu tidak menghancurkan pengalaman yang secara umum sangat magis. Secara keseluruhan, tim di Square Enix memaparkan narasi dengan baik. Perjalanannya penuh dengan momen-momen berkesan yang penuh aksi tingkat tinggi dan kesenduan pemancing air mata. Beberapa chapter memiliki tendensi untuk mengulur-ulur durasi, sedangkan yang lain terasa bisa diperpanjang lagi. Chapter 6, 7, dan 10 merupakan yang membuat frustrasi karena terlalu banyak menghabiskan waktu dari yang kami rasa seharusnya. Sementara chapter 2, 3, dan 4 adalah permainan yang paling kami sukai sepanjang masa - di sistem manapun. Cara Square Enix dengan hebat memungkinkan pemain menjelajahi Midgar yang kini lebih luas adalah fenomenal. Chapter 4 adalah yang paling menonjol, yang menyentak hati sanubari - itu adalah sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Terutama, jika kamu memainkannya lagi setelah kamu menyelesaikan game. Penggemar dari kompilasi Final Fantasy VII juga tidak akan kecewa. Banyak referensi kepada Crisis Core: Final Fantasy VII dan film sekuelnya Advent Children yang bisa ditemukan di dalam game. Tanpa membocorkan detail apapun, kami bisa mengatakan bahwa di Remake, hal yang terjadi di Crisis Core adalah kanon.

Narasinya tentu saja hanya satu elemen dari proyek raksasa ini. Sebuah elemen lain, yang mendapatkan baik pujian maupun kritik dari penggemar dan kritikus, adalah sistem pertarungan yang baru. Di PSX, mekanika giliran dari Final Fantasy VII telah menggebrak dunia game saat itu. Ia menawarkan pertarungan dengan tempo lebih cepat daripada JRPG standar dengan aksi dan animasi yang indah. Di 2020, banyak hal berbeda. Pada dasarnya Square Enix dihadapkan dengan sebuah keputusan: tetap mempertahankan yang asli atau membuat sesuatu yang baru? Pada akhirnya battle director Naoki Hamaguchi mendapatkan inspirasi dari sebuah game yang tidak begitu terkenal di franchise ini, Final Fantasy XII. Ia dengan sempurna menggabungkan aksi dan pertarungan berbasis giliran. Satu momen kamu akan menebas menggunakan pedang besar Cloud dengan menekan tombol Kotak lalu kemudian memperlambat waktu untuk menggunakan skill dengan hati-hati. Sama seperti versi 1997, sistem Active Time Battle (ATB) kembali, yang diisi dengan menyerang musuh. Ketika bar ATB penuh, Cloud dan kawan-kawan bisa mengeksekusi spell dan skill kuat.

Berganti antarkarakter selama pertarungan mudah dan efektif. Kamu dapat menembaki musuh dari jauh menggunakan lengan senapan Barret dan setelah itu segera berpindah ke Cloud untuk melayangkan serangan pedang hanya dengan menekan tombol d-pad. Semuanya berjalan dengan mulus. Menguasai setiap karakter dalam pertarungan adalah kunci dalam strategimu. Setelah kami mulai terbiasa dengan alurnya di beberapa pertarungan bos yang intens, pertarungannya terasa hebat. Ketika kamu sudah menyelesaikan seluruh 18 chapter dari cerita utamanya, tingkat kesulitan hard akan terbuka dan membuat pertarungan semakin menegangkan.

Sama seperti RPG akhir-akhir ini, Final Fantasy VII: Remake menghadirkan sejumlah side quest. Berbeda dengan game seperti Persona 5, Assassin's Creed Odyssey, atau Final Fantasy XV, side quest tidak terlalu melimpah. Quest tidak banyak dan pada umumnya menambahkan cerita dari Midgar, menolong mereka supaya tidak terasa repetitif. Selain mengumpulkan tiga kucing yang tersebar di lingkungan kumuh Sector 7, tentunya. Untungnya Cloud dapat berkomentar tentang betapa bodohnya quest itu. Dengan bagaimana ceritanya bergulir, semua aktivitas ekstra ini terbatas pada chapter mereka masing-masing. Tidak ada backtracking hingga kreditnya bergulir dan pilihan chapter terbuka. Dengan kata lain, jika kamu mencari sebuah game open-world yang memiliki gameplay ratusan jam, Final Fantasy VII: Remake bukanlah itu. Game ini adalah sebuah pengalaman yang padat di mana segalanya terkoneksi dengan narasi sentral.

Cara Square Enix menghidupkan segalanya sungguh luar biasa. Segalanya mulai dari efek partikel hingga animasi wajah, hingga Midgar itu sendiri adalah sebuah keajaiban grafis. Dikenal sebagai salah satu produksi 3D besar pertama di zamannya, Remake juga sama hebatnya di tahun 2020. Dengan grafis yang detail, mungkin kamu berpikir bagaimana mereka bisa menghadirkan sebuah pengalaman yang tidak memiliki isu framerate, glitch, atau bug - apakah kamu memainkannya di PS4 standar atau Pro. Ini adalah sebuah pencapaian tersendiri, dengan begitu banyak game yang dirilis membutuhkan patch sebelum mereka bekerja dengan semestinya.

Pada akhirnya, ketika kredit bergulir dan kami menaruh controller, kami tidak dapat merasakan perasaan lain selain puas. Yoshinori Kitase, Tetsuya Nomura, dan seluruh staf di Square Enix telah mencapai sesuatu yang mustahil. Mereka telah membuat ulang Final Fantasy VII.

9
Luar biasa dari 10 · Gamereactor Asia
Kelebihan Terlihat hebat, seimbang antara hal baru dan lama, konten menarik dan menabahkan kekayaan narasi.
Kekurangan Beberapa chapter terasa bertele-tele.
Skor jaringan Rata-rata dari 9 edisi Gamereactor
8.8 rentang 7–9
Gamereactor 9
Gamereactor Norge 7
Gamereactor Deutschland 9
Gamereactor España 9
Gamereactor France 9
Gamereactor Italia 9
Gamereactor Portugal 9
Gamereactor Polska 9
Gamereactor Asia 9
Profil lengkap 15 artikel diterbitkan
9
Luar biasa Skor jaringan dari 9 edisi
Fakta gim
Developer Square Enix
Publisher Square Enix
Tanggal rilis 10 April 2020
Genre RPG
Platform
PS4 PS5
Mengapa memercayai Gamereactor
23 Edisi Masing-masing dengan redaksi dan penilaiannya sendiri.
1998 Terbit sejak Dimiliki secara independen sepanjang waktu itu.
100% Dimainkan langsung Ditulis dari waktu bersama gamenya, bukan dari materi pers.
1–10 Skor jaringan Nilai setiap edisi, dirata-ratakan dan ditampilkan.