Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
review
Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age

Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age

Dragon Quest XI adalah game pertama dari seri klasik ini yang hadir di konsol dalam dua belas tahun. Sayangnya, game ini masih terasa terjebak di tahun 2006.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Tidak ada seri RPG di Jepang yang bisa menandingi Dragon Quest dalam hal popularitas dan dampak budaya. Daya tarik dari seri game ini mungkin berakar dari art style yang khas dari Akira Toriyama, seniman di balik seri yang sangat populer, Dragon Ball. Tetapi kami menganggap penggambaran mantan presiden Nintendo, Satoru Iwata adalah yang paling tepat ketika dia mengungkapkan bahwa rahasia di balik kesuksesan Dragon Quest adalah aksesibilitasnya; sebuah game Dragon Quest bisa dimainkan oleh siapa saja baik yang sudah berpengalaman maupun pemula, dan mereka yang memainkan game ini tidak memerlukan panduan dan tutorial sebelum bermain. Nilai dari filosofi desain ini tidak bisa dianggap remeh ketika game yang lainnya seringkali tampak terlalu rumit dan sulit dicerna oleh pemula.

Akan tetapi, di luar Jepang, seri Dragon Quest tidak pernah mendapatkan kedudukan yang sama. Namun, hal ini berubah saat Dragon Quest VIII dirilis di PlayStation 2 pada tahun 2005 di Amerika (dan 2006 di Eropa). Ini adalah kali terakhir bagi game Dragon Quest dirilis di konsol besar di luar Jepang. Dragon Quest IX adalah sebuah game eksklusif bagi DS, dan MMORPG Dragon Quest X tidak pernah dirilis di luar Jepang. Ini berarti bahwa rilis Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age di PlayStation 4 dan PC adalah rilis pertama dari seri ini dalam platform besar selama lebih dari dua belas tahun.

Dalam banyak hal, seri Final Fantasy dan Dragon Quest saling berlawanan satu sama lain. Ketika memainkan game baru di seri utama Final Fantasy, kamu selalu bisa mengharapkan sesuatu yang baru dengan beberapa elemen yang sudah dikenal dari seri sebelumnya. Di lain pihak, ketika memainkan game baru dari seri utama Dragon Quest, kamu bisa mengharapkan kenyamanan dari sesuatu yang sudah kamu kenal dengan sedikit penyesuaian untuk mengikuti standar generasi terbaru. Dragon Quest XI menegaskan hal ini sejak pertama kali memainkannya.

Sesuatu hal yang jadul dan membawa nostalgia seperti ini tidak selamanya merupakan sesuatu yang negatif. Kadang-kadang, pulang ke rumah ibumu di hari Minggu dan menikmati hidangan rumah adalah sesuatu yang kamu inginkan dan butuhkan. Kamu tahu dengan pasti rasa dan aromanya akan seperti apa, dan justru karena itulah kamu pulang ke rumah. Dragon Quest XI memberikan perasaan yang sama. Jika kamu pernah memainkan game Dragon Quest sebelumnya, kamu akan tahu pasti apa yang akan kamu dapatkan. Dan jika ini adalah pengalaman pertama kamu bermain Dragon Quest, ini juga game yang bagus untuk memulai petualangan di seri ini.

Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age

Mari kita mulai di bagian di mana Dragon Quest biasanya paling lemah, yaitu cerita utamanya. Di setiap petualangan, kamu bermain sebagai seorang silent hero, seseorang yang terpilih oleh takdir/kekuatan dewa/kekuatan misterius dengan tugas untuk menyelamatkan dunia dari mahluk jahat yang kuat yang ingin membawa dunia kepada kekacauan dan kegelapan untuk menciptakan surga bagi para monster. Baik dan jahat sangat jelas dan setiap karakter berada di salah satu kategori tersebut, dan yang jahat bisa dikenali dari kejauhan karena penampilannya yang jahat. Secara tidak mengejutkan, semua ini juga berlaku untuk Dragon Quest XI. Kamu memainkan peran sebagai Luminary, orang pilihan sang World Tree, Yggdrasil, terlahir dengan sebuah tanda di tangan kirimu yang membuatmu dikenali sebagai hero yang bereinkarnasi dari Age of Heroes. Karena kelahiranmu menandai kehancuran bagi kekuatan gelap di dunia, mereka memutuskan untuk menyerang tanah kelahiranmu begitu kamu dilahirkan untuk melawan takdir. Kamu masih bisa selamat dari serangan itu, dan bertahun-tahun kemudian, akhirnya kamu siap untuk memulai petualangan dan memenuhi panggilanmu.

Tidak ada banyak kejutan dalam cerita utamanya, dan walaupun kawan-kawanmu mempunyai banyak daya tarik, mereka tidak pernah terlihat sebagai kelompok yang paling unik. Walaupun begitu, game ini kadang-kadang masih bisa memberikanmu kejutan. Di saat kamu mulai memasuki lautan JRPG di mana semuanya terlihat seperti berjalan secara autopilot, game ini memiliki subplot yang bisa memberimu pukulan emosional. Setelah sub-plotnya terlewati, kamu akan menjadi emosional dan berpikir: "hal inilah yang membuatnya menjadi Dragon Quest." Karena memang demikian. Plot utama yang terlalu mudah ditebak selalu tentang orang terpilih melawan pangeran kegelapan, yang tidak pernah terasa istimewa. Yang baik dari game ini adalah sub-plot dan alur cerita tunggalnya yang terus kamu ingat setelah gamenya selesai. Walaupun sub-plotnya tidak selalu memberi dampak yang besar bagi cerita utamanya, mereka membuat pengalaman bermain menjadi lebih dikenang.

Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age

Tidak mengejutkan, grafik di Dragon Quest XI terlihat mengagumkan. Gaya dari Akira Toriyama yang jelas dan khas dihidupkan dengan sangat baik, dan menakjubkan melihat banyaknya energi yang dikerahkan oleh Square Enix dalam proyek ini untuk menciptakan visual yang indah. Bahkan kualitas visualnya membuat game ini masih terasa mengagumkan setelah 50 jam memainkannya, dan para fans lama mungkin akan merasa gembira melihat seri kesayangan mereka dihidupkan dengan cara yang hebat. Penyajian yang sempurna juga mempermudah karakter-karakter dan monster-monster untuk membuatmu terpesona dengan karisma dan juga kepribadian mereka.

Mekanika gameplaynya cukup sederhana dan mudah dipelajari, membuat Dragon Quest XI sebuah perkenalan yang baik terhadap seri ini bagi orang baru. Kamu mempunyai dunia yang luas untuk dijelajahi dengan quest utama dan sampingan, dan di dalam perjalananmu kamu bisa menolong orang-orang yang membutuhkan, menyelesaikan tantangan crossbow, berpartisipasi dalam balapan kuda, berjudi di kasino, dan memerangi monster-monster, dan itu baru sebagiannya. Monster-monster berkeliaran dengan bebas di penjara-penjara bawah tanah dan istana di seluruh map, membuat pertarungan secara acak tidak akan terjadi dan memungkinkanmu menghindari mereka jika kamu mau. Serangan dalam pertempurannya berjalan secara bergiliran, dan kamu bisa memilih untuk memberi setiap perintah secara manual, atau mengatur setiap karakter dengan gaya bertarung tertentu (show no mercy, don't use MP, fight wisely dll.).

Sebuah elemen baru dalam Dragon Quest XI disebut Pep Power, yang mengubah karakter yang kamu mainkan menjadi bercahaya, seperti gaya Dragon Ball, memungkinkan mereka melancarkan serangan spesial. Hal ini juga mungkin dilakukan dalam Dragon Quest VIII sampai batasan tertentu, di mana di saat kamu menahan serangan musuh, kekuatanmu terkumpul dan melepaskan kekuatan spesial dari karakter itu. Akan tetapi, kali ini Pep terpicu secara otomatis dalam pertempuran setelah kondisi tertentu terpenuhi. Skill tree di mana kamu bisa meningkatkan karaktermu juga menjadi tambahan dalam seri ini, dan setiap kali kamu berkemah, kamu bisa mengeluarkan bengkel besi portabel dan membuat peralatan baru. Fitur baru lainnya adalah kemampuan untuk bergerak bebas dalam sebuah area lingkaran selama pertempuran, sama halnya dengan sistem di game Tales terbaru dan Ni no Kuni II: Revenant Kingdom. Dalam Dragon Quest XI, kemampuan itu hanyalah sebuah polesan, karena penempatan posisi karaktermu tidak berpengaruh pada efisiensi pertempuran, dan ini akan membuatmu bertanya-tanya, kenapa mereka memasukan fitur seperti itu sebelum mengubah kamera pertempuran ke mode klasik.

Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Dan sekarang inilah permasalahan paling mendasar dari Dragon Quest XI, yaitu inovasi. Atau lebih spesifik lagi kurangnya inovasi. Usaha yang dilakukan game ini untuk mendatangkan sesuatu yang baru hanyalah pada tingkat di mana kamu tidak menemukan manfaatnya sama sekali (seperti sistem kamera tadi), atau hanya mengikuti hal-hal yang sudah standar saja di genre ini. Selebihnya, game ini berusaha menciptakan perasaan nostalgia yang dimiliki oleh para pemain lama dari game-game sebelumnya. Permasalahannya, Dragon Quest menjadi sebuah seri yang populer pada masanya adalah karena terus memperbaharui seri dan juga genrenya, bukannya hanya menjadi pengikut game-game lainnya di era tersebut.

Sejak rilisnya Dragon Quest VIII di Eropa pada tahun 2006, para fans JRPG telah menikmati banyak mahakarya seperti di antaranya Final Fantasy XII, Bravely Default, The Last Story, Xenoblades Chronicles, Lost Odyssey, Tales of Xillia, Persona 4, dan Ni no Kuni: Wrath of the White Witch. Belum lagi tahun kemarin yang menjadi tahun yang hebat untuk game bergenre seperti ini seperti Tales of Berseria, Nier: Automata yang unik dan kuat dalam ingatan kami, dan akhirnya Persona 5, raja baru dari game JRPG turn-based. Di sepanjang tahun ini, para gamer telah menikmati Ni no Kuni II: Revenant Kingdom, yang membawa standar baru bagi cara menghidupkan sebuah art style tertentu secara digital, dan Octopath Traveler, yang cukup sukses dalam menggabungkan yang lama dengan yang baru untuk generasi masa kini.

Kami bisa meneruskan pembahasan di atas, tetapi maksud kami sudah cukup jelas; banyak yang telah terjadi dalam dunia JPRG sejak 2006. Akan tetapi, selain grafis yang sudah ditingkatkan, Dragon Quest XI sepertinya tidak melihat kenyataan ini. Game ini terasa sangat tua, lambat dan janggal untuk bisa kompetitif dengan game bergenre ini di tahun 2018. Game ini tidak menyuguhkan apa yang tidak dimiliki oleh game lain dengan kualitas yang sama atau lebih baik, dan hal itu tidak cukup baik untuk sebuah game yang menghabiskan 50 jam waktumu.

Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age

Bagian dari kesalahan yang ada bisa ditemukan dalam kebiasaan-kebiasaan lama dari seri ini yang harus direvisi dan/atau diganti. Kami coba sebutkan beberapa; pilihan di mana kamu dipaksa mengulang-ulang sebuah dialog sampai kamu menjawab dengan benar, menu yang panjang dan tidak mencukupi, sebagai contoh adalah ketika kamu ingin menyimpan permainanmu (yang ini sangat terasa, game ini memaksamu untuk pergi ke sebuah gereja atau patung seorang saint setiap kali kamu mau menyimpan game, dengan demikian, kamu harus mengklik beberapa baris dialog dan pilihan); layanan yang tidak benar-benar berfungsi karena seri ini telah memperkenalkan sistem yang lebih efisien untuk fitur yang persis sama (kenapa harus bertanya kepada seorang pendeta tentang berapa banyak experience yang kamu perlukan untuk bisa naik level kalau kamu bisa melihatnya di menu?); cutscene yang setelah berakhir membiarkanmu berjalan sejauh dua meter sebelum memicu cutscene lainnya; dan jangan lupa beberapa pola serangan dari beberapa karakter wanita berfokus pada gender, tubuh, dan sensualitas, walaupun ini bisa dikatakan sebagai sifat sang karakter. Ketika hal-hal kecil yang mengganggu ini berkumpul, hasilnya pun menggunung.

Mungkin juga sudah waktunya mempertimbangkan untuk mewariskan bagian musikalnya dari Koichi Sugiyama, sang maestro musik video game yang masih menangani musik untuk Dragon Quest pada usia 87 tahun. Ada beberapa bagiannya yang masih bisa dinikmati, tetapi kebanyakan terdengar seperti direkam dengan synthesizer murahan. Mungkin hal itu dianggap bagus untuk tahun 2006, tetapi sangat disayangkan mengingat potensi dari perangkat yang lebih bertenaga beserta kapasitas datanya tidak dipergunakan untuk menciptakan musik yang lebih baik dan mudah dikenang.

Walaupun dengan kurangnya inovasi, masih sangat mudah untuk bisa menikmati permainan Dragon Quest XI, terutama jika kamu sudah lama menjadi seorang fans. Jika kamu belum yakin apakah ingin membelanjakan uang dan waktu untuk game ini, mungkin akan bijaksana jika kamu menanyakan dua hal ini kepada dirimu sendiri; apakah saya pernah bermain Dragon Quest sebelumnya, dan apakah saya menikmatinya? Jika kedua jawabannya adalah "ya", jawabannya sudah bisa ditebak. Kamu akan menemukan banyak konten yang bisa kamu nikmati sekarang ini (tetapi harus diingat bahwa game lain juga menawarkan sesuatu yang sama baiknya, atau lebih baik). Ada nilai hiburan yang bisa dirasakan walaupun kekurangannya sangat terlihat, dan jujur saja, Square Enix punya banyak hal yang harus dilakukan jika ingin merilis bagian kedua belas dari seri ini.

Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive AgeDragon Quest XI: Echoes of an Elusive AgeDragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
07 Gamereactor Indonesia
7 / 10
+
Terlihat mengagumkan, karakter-karakter yang mempesona, sub-plot yang ditulis dengan baik, dunia luas yang bisa dijelajahi, aroma petualangan sudah terasa sejak awal, intuitif.
-
Terlalu banyak kebiasaan lama, plot utama dan musiknya tidak mengesankan, sering kali terasa lambat, gagal untuk memperbarui seri ini seperti yang seharusnya.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait



Loading next content