Gamereactor / Dansk / Svenska / Norsk / Suomi / English / Deutsch / Italiano / Español / Português / Français / Nederlands / 中國 / Polski
Gamereactor Close White
Log in member






Lupa password?
Saya bukan member, tapi saya ingin bergabung

Atau log in menggunakan akun Facebook
Gamereactor Indonesia
review
Diablo III: Eternal Collection

Diablo III: Eternal Collection

Game ARPG bernuansa gelap dari Blizzard kembali lagi untuk sebuah petualangan penuh darah.

  • Teks: Mike Holmes
Facebook
TwitterRedditGoogle-Plus

Diablo III adalah sebuah game yang pernah kami mainkan dua kali sebelumnya. Bahkan kami memainkannya di akhir pekan di Nintendo Switch, membuat ini menjadi kali ketiga kami bertemu dengan action-RPG yang seru ini. Kali yang pertama adalah ketika diluncurkan pada tahun 2012 yang lalu, kemudian kami berdansa kembali dengan sang iblis ketika game ini dihadirkan dalam konsol-konsol generasi masa kini, dan sekarang kami kembali lagi, kali ini kami menggenggam game Blizzard ini di tangan kami di saat kami berpetualang dalam mode handheld dari Switch.

Mesin Nintendo ini kini memiliki sejumlah RPG terbaik di era ini. Game klasik yang dikembangkan sendiri seperti Zelda: Breath of the Wild dan Xenoblade Chronicles 2 ditemani oleh The Elder Scrolls V: Skyrim, Dark Souls: Remastered, dan sekarang Diablo III: Eternal Collection. Jika petualangan role-playing yang epik adalah kesukaanmu (terutama jika kamu adalah fans setia Nintendo yang tidak memiliki konsol lainnya atau sebuah PC) maka kamu benar-benar telah dimanjakan.

Bagi orang yang belum pernah memainkan Diablo III sebelumnya, ini adalah sebuah rekomendasi yang mudah. Kita akan menengok performa teknisnya kemudian, tetapi secara singkat, game ini masih merupakan sebuah petualangan yang layak untuk dimiliki, bahkan setelah melewati waktu bertahun-tahun. Game-game seperti Torchlight hampir menyamai game ARPG bernuansa gelap dari Blizzard ini, tetapi tidak ada yang lebih baik darinya selama setengah dekade terakhir, dan walaupun waktu telah berlalu, Diablo masih terasa segar di 2018 berkat desain yang memiliki keseimbangan baik juga penambahan dan penyempurnaan selama bertahun-tahun.

Di lain pihak, banyak dari kalian mungkin juga memiliki sebuah Switch dan konsol lainnya, jadi penilaian dalam hal tertentu sedikit berubah. Dalam hal pro dan kontra, game ini cukup jelas. Dalam hal performa dan kedalaman visual, Diablo mendapatkan pengurangan karena transisinya ke Switch, tetapi di lain pihak, kamu bisa menghajar setan-setan tepat di wajahnya ketika kamu sedang duduk di dalam sebuah bus, atau mengisi waktu ketika kamu menjemput anak-anak dari kelas sore mereka. Dan tentu saja, kamu bisa melenyapkan kejahatan di saat duduk di singgasana porselen.

Diablo III: Eternal Collection

Sekarang mari kita dalami sisi performa dari game ini. Baik ketika sedang terpasang di dock maupun ketika sedang berada di genggaman tanganmu, Diablo III berjalan mulus pada 60 FPS, dan sementara pada mode dock tercatat pada 960p, dalam mode handheld resolusinya menurun ke angka 720p (seperti yang dapat diduga tentunya). Kami menghabiskan lebih banyak waktu bermain dalam mode handheld (seseorang sedang bermain Skyrim di layar besar - begitulah cara kami bermain di rumah) dan walaupun dengan adanya downgrade visual ini, animasi dan background yang dilukis dengan tangan masih memiliki kejernihan dan terlihat mengagumkan. Dan yang terpenting adalah kami tidak melihat sekalipun menurunnya frame-rate yang mengganggu. Kami bermain sebagai Necromancer, sebuah kelas yang membuat kami bisa memanggil sekelompok minion dalam jumlah yang cukup besar, dan dengan layar yang dipenuhi ghoul dan tengkorak yang menyerbu sejumlah musuh-musuh yang buas, semuanya terlihat stabil.

Satu-satunya keluhan kami terhadap mode handheld ini (dan ini spesifik untuk kelas-kelas yang bisa memanggil sekutu dalam jumlah banyak) adalah kadang-kadang sulit menentukan di mana posisi karaktermu dalam melee. Hampir sama, dalam layar yang lebih besar juga ketika bermain dalam mode co-op, gambar dengan resolusi lebih rendah dan kekacauan pada layar bisa membuat kami kesulitan menemukan posisi semua orang. Akan tetapi secara keseluruhan kami harus mengatakan bahwa kami cukup terkesan dengan performa game ini, dan ketika memperhitungkan batasan-batasan dari konsol Nintendo yang sering disebutkan, kami menganggap game ini telah memenuhi ekspektasi kami, dan kami tidak keberatan dengan downgrade visualnya jika itu berarti petualangan game ini tetap mulus ketika seluruh isi neraka murka dalam layar di depan kami.

Diablo III: Eternal CollectionDiablo III: Eternal Collection
Diablo III: Eternal Collection
Diablo III: Eternal CollectionDiablo III: Eternal CollectionDiablo III: Eternal CollectionDiablo III: Eternal Collection