Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Gamereactor Indonesia
preview
Metro Exodus

Metro Exodus - Impresi Hands-On

Kita semakin dekat dengan peluncuran Metro Exodus dan kami berkesempatan untuk mencoba sebagian dari game tersebut di E3 dan Gamescom. Ini pendapat kami.

Metro, franchise game yang dibuat berdasarkan seri buku dengan judul yang sama oleh Dmitry Glukhovsky, telah kembali. 4A Games, studio dari Ukraina yang membuat pendahulunya, sekali lagi bertanggung jawab atas dunia Metro. Metro Exodus adalah game baru pertama dari 4A Games sejak 2013 dan kami berkesempatan untuk mencoba pengalaman post-apocalyptic yang akan datang baik di E3, Los Angeles, maupun di Gamescom, Cologne; berikut kesan-kesan kami di kedua sesi tersebut.

Setelah kami duduk di battle station yang ditentukan, dengan hanya ringkasan singkat tentang game yang akan kami mainkan, kami pergi ke wasteland post-apocalyptic. Kami bermain sebagai Artyom, seorang veteran Metro. Setelah loading screen dan setumpuk kegirangan, kami berjalan di kereta yang melaju cepat melewati lanskap Rusia yang tertutup salju, di mana Artyom memiliki satu tujuan; menemukan rumah dan tinggal di atas tanah bersama rekan penghuni kereta bawah tanahnya.

Setelah beberapa saat, kereta yang kami tumpangi menabrak barikade besar yang diawaki oleh musuh bersenjata. Setelah mengalahkan mereka, Artyom berangkat bersama seorang rekan wanitanya untuk menjelajahi area di sekitar markasnya yang kini terdampar. Seketika kami terpesona dengan dunia baru Metro yang diperluas, dibandingkan dengan pendahulunya. Metro Exodus sangat besar, terbuka, tapi masih dipenuhi oleh monster-monster pembunuh nuklir radioaktif, seperti biasa.

Setelah membiasakan diri dengan peta, layout, dan kontrol baru dari game ini, kami pergi menuju garis pantai yang beku dan di perjalanan kami diperkenalkan dengan sistem crafting yang baru dari Metro. Tampaknya crafting menjadi hal yang diunggulkan di game baru ini dan sistemnya pun terlihat menakjubkan. Segala yang kamu ambil di perjalanan sangatlah penting untuk bertahan hidup karena kamu akan membutuhkannya untuk membuat amunisi, medpacks, filter udara, dan kebutuhan lainnya. Walaupun demikian, hal ini mengurangi sedikit pengalaman bagi mereka yang tidak terlalu peduli untuk mengambil benda-benda di perjalanan. Pengalaman di open world-nya tidak sebebas yang dibayangkan, tapi untuk kamu yang suka survival yang intens pasti akan menyukainya.

Metro Exodus

Setelah beranjak dari kereta yang terlantar, kami dibawa ke sebuah danau beku. Di sana kami mengambil perahu dayung. Seketika makhluk laut yang bermutasi mengetuk bagian bawah perahu, sepertinya ingin keluar dari dinginnya air dan bergabung bersama kami di sisi yang lebih kering dari perahu kayu tersebut. Tak lama setelah itu, kami sampai di sebuah markas besar yang didirikan di atas pulau-pulau, dari sana kami melewati gerbang besar ke suatu tempat seperti gereja sebelum akhirnya gerbang itu tertutup dengan suara keras di belakang kami - mencurigakan.

Sesuatu seperti khotbah sedang berlangsung di depan kami dan kami mendapatkan informasi seputar pendeta itu dari khotbah tersebut. Ia dan pengikutnya memandang rendah (bisa juga mereka takut) teknologi dan memiliki tujuan utama untuk memusnahkannya dari dunia begitu pula untuk mereka yang menerimanya. Dua dari "embracers" (orang yang menggunakan teknologi) tersebut adalah seorang wanita dan anak perempuannya yang telah ditangkap di menara lonceng gereja oleh para pemuja. Setelah bertempur untuk bisa masuk, beberapa pengikut akhirnya menyerah - ini tampaknya merupakan fitur utama dari Exodus - dan kami diizinkan keluar dari gereja tersebut bersama para sandera tanpa adanya pertumpahan darah lagi. Wanita dan anak perempuannya dikirimkan duluan ke tempat yang aman (sehingga tidak ada misi pengantaran) dan merupakan hal yang bagus juga, karena kami ternyata diserang oleh monster laut raksasa di perjalanan pulang.

Sebuah pertarungan singkat melawan bos terjadi, dan setelah itu demonya pun berakhir; tapi, jangan khawatir - kami masih mendapatkan kesempatan bermain lagi di Gamescom.

Kali ini kami berkesempatan untuk menyaksikan latar yang sangat berbeda. Area yang kami singgahi adalah area tandus serupa rawa tempat serigala dan beruang bermutasi berkeliaran. Setelah dihajar oleh sebuah makhluk, kami dibangunkan oleh seorang wanita cantik yang terlihat berasal dari sebuah suku. Kami pun diantar keluar dari cengkraman alam liar. Tidak ada alur cerita yang jelas kali ini, tapi menjelajahi lanskap baru memberikan kami gambaran yang lebih baik tentang bagaimana dunia ini dibentuk.

Alih-alih dibuat sebagai open world yang utuh, sebagaimana ditunjukkan di demo terakhir, kami melihat segmen "semi-open" world di demo kedua. Batang dan cabang kayu yang tidak dapat kamu lewati dipasang di seluruh tempat dan mengingatkan kami pada latar reboot Tomb Raider dengan sistem petanya yang berbeda. Sekali lagi, kami mengambil semua yang kami temukan untuk bertahan hidup dengan menggunakan sistem crafting dan sekali lagi kami harus memaksa pasukan untuk menyerah setelah membunuh sebagian besar kelompoknya.

Kami juga bertemu dengan satu pria suku lain yang sedang memancing di dermaga. Ketika kami menghampirinya, ia mengambil pistolnya, memberi tahu bahwa kami hanyalah para orang kejam yang datang untuk membunuh rakyatnya. Walaupun demikian, saat kami menurunkan pistol kami, perilaku pria itu berubah dan kami menjadi teman. Pilihan-pilihan ini muncul terus menerus dan sepertinya pilihan moral lebih menjadi fokus game kali ini. Menjaga penampilan juga dapat membantumu.

Metro Exodus terlihat dan terasa sangat menyenangkan dan perubahan yang dibuat (hal-hal yang sudah kami lihat sejauh ini) terasa natural dan masuk akal. Kami menanti hal-hal lainnya dari game yang akan datang ini dan kami siap memainkan versi akhirnya di awal tahun depan.

Metro ExodusMetro Exodus