Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
review
Predator: Hunting Grounds

Predator: Hunting Grounds

Meski memiliki segudang potensi, petualangan IllFonic ke dunia game berlisensi tidak begitu menggigit.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Bertahun-tahun telah berlalu sejak kita melihat Arnold Schwarzenegger melawan petarung alien di layar lebar untuk pertama kali, dan bisa dikatakan bahwa telah banyak yang terjadi setelahnya. Arnold menapaki karier ganda di bidang politik dan akting, terpilih sebagai gubernur California, dan tidak pernah kembali untuk berperan sebagai Dutch, karakter paling ternama di seri Predator. Seri ini pun terus berlanjut tanpanya dan bahkan memunculkan spin-off baik dalam bentuk film maupun video game, salah satunya bersama makhluk alien lain, yaitu Xenomorph dari serial Alien. Jadi, meski game multiplayer yang menghadirkan Predator sudah pernah ada sebelumnya, sub-genre asimetris PvP kini telah menggapai kesuksesan, dengan game seperti Dead by Daylight dan Friday the 13th: The Game yang terus memberikan konten baru kepada penggemar setia mereka.

Game kedua yang disebutkan di atas, bahkan, awalnya dikembangkan oleh IllFonic. Jadi meski developer ini memiliki pengalaman dalam mengembangkan game horor asimetris (dua jika menghitung peran pendukung mereka di Evolve), rekam jejak mereka tidak begitu bagus karena Friday the 13th: The Game penuh dengan masalah lisensi, kekurangan konten, dan gameplay di bawah standar, dan tidak ada yang telah diperbaiki. IllFonic juga meninggalkan proyek ini tiba-tiba, meninggalkan Black Tower Studios untuk meneruskannya. Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa kami membahas pengalaman terdahulu mereka, dan jawaban sederhananya adalah ini: banyak isu yang menaungi game di atas juga terjadi di karya terbaru mereka.

Predator: Hunting Grounds memiliki premis yang menyenangkan. Tergantung dari pihak mana yang kamu pilih, kamu bisa berkeliaran dalam kondisi tersamar dan hampir tidak terlihat dan memburu manusia, baik yang dijalankan AI dan pasukan yang dikendalikan pemain lain. Kamu menggunakan sensor panas untuk mencari mangsa, dan menebas dan/atau menembak mereka sebelum memenggal mereka semudah kamu mencabut kepala Barbie adik perempuanmu. Jika kamu berada di pihak yang berseberangan, kamu harus bertahan hidup dengan menghindari serangan yang datang dan melumuri diri dengan lumpur, menyelesaikan objektif, dan naik ke helikopter!

Predator: Hunting GroundsPredator: Hunting Grounds

Ini adalah premis yang sederhana dan setiap permainan mengikuti pola yang sama untuk kedua pihak. Jika kamu bermain sebagai pasukan di Fireteam, kamu akan diberikan tiga objektif untuk diselesaikan dan ketiganya menentukan apakah kamu dapat keluar atau tidak. Kamu harus menyelesaikan mereka sebelum ekstraksi dan kamu akan bertemu dengan pasukan AI di sepanjang jalan, biasanya di lokasi pusat di mana objektifmu berada. Selain pasukan AI yang ingin menggagalkan misimu, ada pula seekor Predator yang menyelinap di antara bayangan, jauh di atas pohon, atau mungkin berada tepat di belakangmu. Sang predator dapat terdengar dengan jelas ketika ia berlari berkat suara dentuman kaki yang membuat tanah bergetar, deritan dari pohon, atau terlihat melalui sinar laser, tetapi hal itu jangan sampai membuatmu jumawa karena sang Predator sangat lincah dan mematikan.

Sebagai Predator, kamu akan datang dengan satu tujuan - untuk membasmi manusia dengan segala cara. Kamu harus membedakan mana pemain AI dan manusia (yang harus kamu bunuh untuk bisa menang) atau menggunakan strategi pro dengan membiarkan Fireteam membereskan pasukan AI dan membunuh mereka satu per satu ketika mereka berpencar untuk menyelesaikan objektif. Ini cukup menyenangkan - setidaknya pertama kali - namun, semuanya menjadi terasa repetitif. "Soon the hunt will begin," katanya. Tetapi rasanya lebih kepada akan segera berakhir karena Predator: Hunting Grounds tidak menawarkan banyak dalam hal durasi.

Predator: Hunting Grounds

Isu utama dari game ini adalah setiap pertandingan kurang lebih sama. Tentu saja, objektifnya bisa berbeda dan kamu berotasi antara tiga peta (yang tidak begitu berbeda), tetapi setelah beberapa jam, setiap pertandingan terasa sama dengan yang sebelumnya.

Namun, bagi mereka yang peduli dengan kosmetik dan kustomisasi, Predator: Hunting Grounds memiliki banyak hal yang ditawarkan dan kamu tidak perlu membayar untuk mendapatkan skin, perk, senjata, dan kostum. Kamu akan mendapatkan mata uang melalui memainkan pertandingan dan mengambilnya di permainan. Kamu juga akan sering mendapatkan peti loot. Meski begitu, kebanyakan persenjataan dan skill baru dibuka setelah mencapai level tertentu, yang tidak akan terasa grinding-nya karena kamu bisa naik level dengan cepat.

Predator: Hunting GroundsPredator: Hunting Grounds

Sistem loot-nya sendiri terasa penuh bug, menunjukkan item yang sudah diperiksa sebagai item baru dan terkadang tidak memperlihatkan item baru dengan status "unlocked" sama sekali. Isu teknisnya tidak berhenti sampai di situ saja, karena ia juga menderita bug gameplay, masalah tekstur, crash, masalah cross-play, masalah koneksi karena matchmaking peer-to-peer game ini, waktu antrean yang lama, dan lainnya. Wow! Bug yang paling membuat frustrasi adalah ketika Predator kami tidak bisa memanjat pohon bahkan ketika tombolnya muncul di layar, begitu juga menembakkan laser. Kami pun akhirnya melompat-lompat tidak jelas dan dibunuh dengan cepat, lalu di-"teabag" oleh anggota Fireteam. Apakah ini membunuh suasana? Tidak, tetapi perasaan kami jelas terluka dan kami merasa dikhianati oleh mekanika gamenya. Kami juga menemukan bug ketika Predator kami berubah menjadi sekumpulan poligon abu-abu (masalah yang belum diperbaiki setelah patch terbaru, bahkan) dan sebuah isu ketika kami tidak bisa mengundang pemain PS4 via fitur lobi cross-play yang dijanjikan. Cross-play memang berjalan baik ketika menggunakan Quick Match, karena hampir di setiap game kami memiliki setidaknya satu pemain berlambang PS di lobi.

Predator: Hunting Grounds adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan dan untuk sebuah game berlisensi dari film, ini adalah salah satu contoh yang bagus. Menyelinap di kanopi pohon sebagai seekor alien yang mengancam dengan sensor panas dan persenjataan teknologi tinggi adalah sebuah kekuatan tersendiri. Terdapat pula kesenangan ketika bekerja sama dalam sebuah tim yang kompak di atas tanah. Namun, masalah teknis dan gameplay repetitif menurunkan pengalamannya. Jika kamu memiliki sebuah skuad penuh dan opsi untuk bermain dalam lobi privat, Hunting Grounds akan menjadi sesuatu yang keren, tetapi tanpa pengalaman tim penuh, daya tariknya memudar dengan cepat kecuali ia mendapatkan banyak konten ekstra karena apa yang ditawarkan pada peluncuran tidak memuaskan.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
05 Gamereactor Indonesia
5 / 10
+
Sistem levelling memberi kepuasan, mata uang dalam game menumpuk cepat, gameplay menyenangkan ketika berjalan baik, desain suara bagus, opsi kustomisasi menyenangkan.
-
Dengan cepat terasa repetitif, level hanya sedikit, banyak bug, isu grafis fitur cross-play baru setengah matang.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait

Predator: Hunting GroundsScore

Predator: Hunting Grounds

REVIEW. Ditulis oleh Lisa Dahlgren

Meski memiliki segudang potensi, petualangan IllFonic ke dunia game berlisensi tidak begitu menggigit.



Loading next content