Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
review
Oninaki

Oninaki

Tokyo RPG Factory telah menghadirkan game ketiga mereka dalam tiga tahun, apakah ini lebih baik daripada karya mereka sebelumnya?

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Kematian adalah satu-satunya hal yang pasti sejak kita dilahirkan. Maka dari itu, kematian adalah sebuah topik yang selalu disentuh dalam setiap budaya manusia, dengan berbagai cara. Bagaimana kita menghadapi kematian, ritual apa yang kita adakan, dan bagaimana kita menghadapi kehilangan dari orang yang dicintai adalah sebuah topik sosio-antropologi yang menarik, apapun budayanya. Ini juga menjadi premis dari Oninaki, game ketiga dan terbaru dari Tokyo RPG Factory.

Studio kecil dari Jepang ini merilis game pertama mereka, I am Setsuna, pada tahun 2016 lalu. Fokusnya pada saat itu adalah membuat sebuah JRPG baru yang mengambil inspirasi dari game klasik Chrono Trigger, sebuah proyek yang cukup berhasil dengan sistem pertarungannya yang menarik, nuansa melankoli, dan dentingan piano yang mengiringi. Game kedua mereka, Lost Sphear dari tahun lalu, lebih terasa sebagai sebuah sekuel yang hampa di mana terdapat aset yang digunakan kembali tanpa menambahkan sebuah sentuhan kreatif dan miskin jiwa. Maka dari itu, pertanyaan dari game terbaru dari Tokyo RPG Factory ini adalah apakah ia dapat kembali menarik hati pemain. Sayang, kecenderungan jawabannya menuju ke arah yang salah untuk Oninaki.

Di Oninkai kita diperkenalkan dengan sebuah dunia yang terbagi atas cahaya dan bayangan, di mana kehidupan hadir di satu dunia dan kematian di dunia yang lain. Semesta ini terobsesi dengan reinkarnasi dan menenangkan jiwa yang telah mati supaya mereka bisa menuju dunia selanjutnya. Mereka yang hidup disuruh untuk tidak menangisi yang telah mati, karena ini dapat menyebabkan mereka menyesali kematiannya dan tetap tinggal, membuat mereka tersesat atau bahkan berubah menjadi monster. Kamu bermain sebagai seorang karakter bernama Kagachi, seorang Watcher dengan kemampuan untuk menjelajahi kedua dunia. Tugasnya adalah untuk memastikan jiwa-jiwa yang tersesat dapat mengikhlaskan kematian mereka dan beranjak ke habitatnya.

Latar dan premis dari ceritanya menarik. Untuk menekan emosi kuat yang muncul ketika menghadapi kehilangan dan kematian tentunya tidak baik untuk tubuh, pikiran, dan jiwa, dan memiliki sebuah negara yang dibangun dengan premis bahwa kematian tak boleh diratapi merupakan sebuah titik yang menjanjikan untuk memulai sebuah kisah JRPG. Namun, ia hanya sekadar menjadi sebuah ide bagus untuk sebuah game yang lebih dalam. Keseluruhan ceritanya sendiri terseret turun oleh dialog yang ditulis dengan buruk dan sebuah plot yang terburu-buru mulai dari bab pertama dengan sedikit konsistensi.

OninakiOninaki

Memiliki persona paling membosankan di sejarah studio itu tidak membantu Oninaki sama sekali. Ini adalah salah satu elemen kunci di I am Setsuna, dan bahkan Lost Sphear memiliki satu dua karakter yang dapat disukai. Oninaki menawarkan sedikit dalam hal ini. Kagachi terasa kering bagaikan gurun pasir, para karakter pendukung pun tak lebih baik. Kebanyakan hanya datang dan pergi tanpa menghadirkan kesan kepada pemain. Sebuah JRPG tanpa sebuah deretan karakter yang berkenang tentu saja sesuatu yang menyedihkan.
Jika kamu menyukai RPG dengan dunia terbuka yang luas dengan rahasia dan cerita yang bisa dijelajahi, di mana kamu bisa menemukan petualangan aneh dan unik, Oninaki bukanlah game itu. Bahkan, dunianya tidak memiliki peta dunia yang bisa dijelajahi sama sekali. Setiap area yang dikunjungi pun kurang lebih linier. Kamu bisa selalu pindah dari dunia orang hidup dan mati, tapi karena ia hanya melibatkan perubahan warna saja, maka perubahan pemandangannya tidak begitu berarti. Di satu sisi positif, sebagian besar area memiliki pemandangan yang indah, yang mengangkat artwork game ini yang indah. Para karakter, di satu sisi, sangat hambar dan dangkal secara visual, yang secara ironis mencerminkan kepribadian mereka pula.

Oninaki

Kartu andalan dari game ini adalah sistem pertarungannya, yang bisa menghiburmu selama beberapa waktu. Setiap Watcher dapat mengundang para daemon, jiwa orang mati tanpa ingatan masa lalu yang tidak tersesat ataupun terkutuk. Setiap daemon memiliki susunan skill dan senjata yang berbeda-beda. Kagachi bisa menggunakan empat daemon sekaligus yang bisa ditukar di tengah-tengah pertarungan dengan stik analog kanan. Menemukan tim daemon impianmu dan menukarkan mereka di waktu yang tepat penting jika kamu ingin berhasil dalam pertarungan. Meski pertarungannya akan terasa repetitif dalam jangka panjang, ini masih sebuah sistem yang bagus untuk action-RPG.

Meski sistem pertarungannya berjalan dengan baik, rasanya aneh hal ini tidak dijadikan titk utama oleh Tokyo RPG Factory, mengingat seberapa baiknya pertarungan di game-game mereka sebelumnya. Aspek lain yang membutuhkan lebih banyak peningkatan adalah tempo, variasi, karakter, cerita, dan grafis, yang malah memburuk dari karya sebelumnya. Bahkan musiknya tak berkesan dan tak berjiwa, yang mungkin karena komposer yang berbeda (komposer muda dan bertalenta Tomoki Miyoshi tak memegang game ini). Tentu, terdapat beberapa track enak, dan salah satunya adalah tema salah satu bos. Lagu itu mengingatkan kami akan gaya musik seri anime Fairy Tail, namun keseluruhan soundtrack-nya tidak berkesan.

Oninaki bisa saja menjadi sebuah RPG yang hebat, tetapi naskah yang buruk dan karakter-karakter membosankan membuat segalanya monoton dan repetitif. Sayangnya, kali ketiga bukanlah titik keberuntungan bagi Tokyo RPG Factory. Mereka telah menjadi sebuah pembuat RPG medioker, bukan pembaru RPG yang menjadi tujuan mereka ketika didirikan lima tahun lalu. Hal ini menyedihkan lagi mengejutkan, mengingat Oninaki diproduseri oleh tak lain Takashi Nokita, director dari Chrono Trigger itu sendiri. Saat ini, Tokyo RPG Factory masih harus disebut sebagai 'one hit wonder'.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
05 Gamereactor Indonesia
5 / 10
+
Karakter-karakter dan cerita yang membosankan dan tak berkesan, kualitas grafis berkualitas rendah, gameplay repetitif dan linear.
-
Sistem pertarungan yang menarik, premis cerita yang bagus, gaya visual yang indah.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara