Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
preview
Metro Exodus

Metro Exodus - Impresi Terakhir

Dengan semakin dekatnya Metro Exodus ke hari perilisan, kami mendapatkan sekali lagi kesempatan ke Rusia post-apocalyptic.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Kami telah memainkan Metro Exodus beberapa kali. Dengan perilisan yang kurang dari sebulan lagi, 4A Games dan Deep Silver mengundang kami untuk mencobanya sekali lagi sebelum ia mendarat di PC, PS4, dan Xbox One pada 15 Februari. Demo baru ini menghadirkan pula hal-hal baru, jadi kali ini kami memainkan sebuah bagian dari game yang terjadi pada musim panas. Sebuah perubahan iklim yang memberikan perbedaan lebih lanjut di game ini dibanding dengan pendahulu-pendahulunya yang berlatar dunia kereta bawah tanah Rusia.

Di awal demo, Artyom dan teman-temannya memasuki kota dengan kereta tua mereka, di mana petualangan mereka mencari rumah baru berlanjut. Namun, tampaknya bioma baru ini tak terlalu ramah. Pertama, pasir di mana-mana. Hanya perlu waktu beberapa menit hingga badai beradiasi memaksa kami harus memasang masker gas. Tak perlu waktu lama pula hingga kami bertemu dengan penduduk aslinya, manusia pasir yang termutasi menyergap kami ketika kami sedang menjelajah sebelum bertemu dengan manusia yang juga tak ramah. Setidaknya kami bisa menjarah orang-orang ini, meski para mutan tak memiliki amunisi ataupun persenjataan. Amunisi langka di Metro Exodus (memang selalu begitu di seri ini) tapi meski kelangkaannya, tak butuh waktu lama sampai kamu harus menembakkan peluru secara panik ke musuh yang menyerang.

Jika kamu akhirnya kehabisan amunisi, kamu bisa membuat peluru di perjalanan menggunakan backpack-mu yang terpercaya (terdapat pula bangku crafting di beberapa lokasi yang memberikanmu lebih banyak opsi, tapi kami tak sempat mengutak-atiknya terlalu banyak). Kami membuat cukup banyak peluru dan health pack, menggunakan sumber daya yang kami temukan sepanjang jalan. Namun, ternyata itu belum cukup dan tak perlu lama sebelum akhirnya kami menembakkan peluru kosong dan harus menghajar musuh langsung dengan pistol kami. Beberapa serangan musuh yang lebih kuat telah dipersiapkan dalam sebuah sekuens yang mengharuskan kami menekan tombol tertentu, tapi sebagian besar kamu akan memukul-mukul secara liar, jadi mungkin pertarungan melee dapat dibuat lebih dinamis lagi.

Metro Exodus

Crafting memberikanmu fleksibilitas lebih besar, dan kebebasan baru ini memiliki antarmuka yang mendukung. Kekuatan dari seri Metro adalah imersi yang ia berikan ke pemainnya. Selain dari quick-time event yang disebutkan di atas, kebanyakan hal yang perlu kamu ketahui terpampang di layar dengan jelas. Sebagai tambahan, dengan menahan bumper kiri dan kanan, akan memunculkan beberapa menu yang memungkinkan kamu untuk dengan cepat mengisi baterai atau senjata, menggunakan obor, dan seterusnya.

Ketika kami berhasil menjatuhkan beberapa zombi pasir dan memperkenalkan diri kepada faksi lokal (dengan kekerasan), kami pun mendapatkan tugas. Misi kami adalah, jika kamu memilih untuk menerimanya, menyelamatkan seorang wanita yang diserang oleh penjahat lokal di mercusuar di mana ia tinggal. Setelah melewati beberapa musuh yang berpatroli di sekitar sebuah jaringan terowongan, kami akhirnya dapat menyerang mereka dari samping. Kami pun mampu mengejutkan mereka dan akhirnya naik ke puncak mercusuar menggunakan sebuah lift darurat untuk bertemu dengan teman baru kami dan menuju ke tugas berikutnya.

Misi ini membawa kami ke lokasi yang familier: bawah tanah. Aksi dari Metro Exodus memang kebanyakan berada di bawah terpaan matahari, tapi masih ada petualangan bawah tanah yang menantimu. Jadi kami pun mencari beberapa denah dan foto pribadi yang diminta oleh sahabat baru kami. Pada saat itulah kami bertemu dengan para laba-laba. Makhluk ini, lebih besar daripada anjing dan memiliki ekor yang membuatnya lebih mirip kalajengking. Bagaimanapun, kami tak menyukai mereka, sedikitpun. Untungnya, mereka juga tak menyukai cahaya. Menyorotkan obormu pada mereka sama baiknya dengan menggunakan senjata api, malah mungkin lebih baik karena kamu bisa menghemat peluru.

Metro ExodusMetro Exodus

Makhluk yang sensitif dengan cahaya ini bisa dengan cepat bergerak ke mengitarimu dan bertarung dengan mereka bisa agak memusingkan. Levelnya sendiri didesain secara logis tapi kamu harus menjelajahi setiap lokasi, bukan sebuah petunjuk yang berbinar. Jadi waspadalah di setiap langkahmu. Ketika kamu bertemu dengan makhluk-makhluk haus darah tersebut, akan cukup sulit untuk melacak jalan yang telah kamu tempuh. Tekanan pun semakin tinggi ketika filter dari masker gasmu mulai habis. Petualangan ini penuh intensitas, tanpa ampun, dan kami menyukainya.

Meski gunplay-nya luar biasa, sandbox-nya menawan, dan grafisnya memukau, bagian terbaik dari Metro Exodus adalah atmosfernya yang mengalir di setiap aspek desainnya. Setelah menghabiskan 90 menit bersamanya, inilah kesimpulan utama kami. Kami tak sempat melihat terlalu banyak narasi (yang, ngomong-ngomong, sangat bagus di dua game terakhir, yang membuat kami sangat berharap untuk yang satu ini), begitu juga dengan mekanisme craftingnya tidak terlalu kami dalami, tapi kami sangat merasakan atmosfer yang 4A coba bawakan di edisi ketiga dari seri ini.

Kami tak sabar untuk menjelajah lebih banyak petualangan first-person ini. Jika apa yang kami lihat sejauh ini merupakan indikasi dari kualitas keseluruhan gamenya, maka ini akan menjadi sebuah shooter post-apocalyptic yang memang kami tunggu-tunggu.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
Metro ExodusMetro ExodusMetro ExodusMetro Exodus

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan