Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
preview
Marvel's Avengers

Marvel's Avengers

Kami sempat memainkan Marvel's Avengers di Gamescom 2019 dan banyak hal yang ingin kami bagi kepada kalian. Inilah preview Gamescom kami untuk game action RPG yang akan datang tersebut.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Tahun ini kita menyaksikan akhir dari sebuah cerita epik yang dikisahkan dalam lebih dari 22 film. Dunia sinematik Marvel menutup saga infinity stone yang besar, yang bermula di tahun 2008 dengan berubahnya Tony Stark menjadi Iron Man di sebuah bunker di Afganistan, dan menutup dengan kematiannya dengan tangannya sendiri. Box office global raksasa, Avengers Endgame menandai pergeseran dalam film-film dari buku komik di seluruh dunia, yang pada akhirnya memberi jalan untuk petualangan baru yang menarik. Kamu mungkin bertanya-tanya: Kenapa akhir dari sebuah franchise film begitu penting bagi video game yang berdasarkan pada pondasi yang sama? Jawabannya bisa ditemukan dalam hands-on-demo baru kami dari Gamescom 2019.

Walaupun beberapa kali menyatakan bahwa ini akan benar-benar menjadi sebuah penggambaran yang berbeda dari hero-hero bumi kita yang paling perkasa ini, pengalaman kami dalam game itu mengatakan hal yang sebaliknya. Akan tetapi mendasari sebuah game dengan dunia film yang sukses tidaklah harus menjadi sesuatu yang buruk, dan impresi kami untuk game ini sekali lagi membuktikannya.

Marvel's Avengers

Seperti apa yang kami saksikan dalam konferensi pers Square Enix, Marvel's Avengers dimulai pada saat A-day bertemakan Avengers di San Francisco. Sebuah serangan teroris yang tiba-tiba terhadap Golden Gate Bridge membawa kota tersebut pada kekacauan, memaksa Avengers untuk berkumpul dan menghentikan teroris dari mengacaukan keadaan dan membajak kendali pesawat induk mereka yang canggih. Berjalan sebagai tutorial untuk game tersebut, di sinilah tempat di mana kami sempat mencoba gameplay sekitar 30 menit yang murni penuh dengan aksi. Karakter pertama yang sempat kami mainkan adalah Thor yang perkasa. Fans dari reboot God of War "versi lembut" dari tahun 2018 akan secara aneh merasa tidak asing dengan kontrolnya karena Thor memiliki skema kontrol yang serupa. Serangan cepat dilakukan dengan tombol kotak, dan segitiga untuk serangan yang lebih lambat dan bertenaga (tentu saja mereka bisa dipadukan untuk membuat berbagai kombo). Untuk membuat musuhnya terluka parah, Thor bisa melakukan serangan spesial dengan R1 dan L1, mulai dari gerakan yang merusak sampai pada yang benar-benar mengakibatkan kehancuran. Thor juga bisa melemparkan palunya dengan membidik menggunakan R2 dan memanggilnya kembali kapanpun dia mau dengan L2, sama seperti dalam God of War. Walaupun dengan kemiripan yang sulit dibantah dengan dewa Yunani favorit semua orang, Thor menyenangkan untuk dimainkan, dan yang terbaik adalah, gerakannya terlihat benar-benar sama dengan yang ada di Thor Ragnarok dan film-film Avengers.

Marvel's Avengers

Dan ketika berbicara mengenai gameplay, Crystal Dynamics berkali-kali mengatakan kepada kami bagaimana setiap karakter unik dibandingkan dengan yang lain, yang berdasarkan pengalaman kami bersama Avengers, tidak sepenuhnya tepat. Baik ketika mengendalikan Black Widow, Captain America, atau bahkan Hulk yang luar biasa, skema kontrolnya secara garis besar tetap sama dengan ketika bermain sebagai Thor. Memang, Iron Man bisa terbang dan menembakkan ledakan yang bertenaga, Black Widow lincah ketika menggunakan kuncian gulatnya dari film, Captain America melemparkan perisainya, dan Hulk merupakan sebuah kekuatan penghancur yang tak terhentikan. Itu memang cukup bervariasi untuk membedakan ciri khas tersendiri di antara karakter-karakternya, tetapi tidak sepenuhnya memberikan pengalaman yang berbeda. satu-satunya kekurangan dalam aksinya adalah pertempuran boss generik di akhir demo itu, yang terlalu kaku dan sedikit menjadi anti-klimaks. Jadi, ketika waktu kami untuk memainkan game tersebut telah habis, Thor tetap menjadi karakter yang paling menonjol, dan Captain America menjadi saingan terdekatnya.

Untungnya, semuanya terlihat hebat ketika berjalan. Partikel-partikel ledakan, kekuatan petir Mjolnir, atau perisai Captain America yang menentang gravitasi yang seolah-olah diambil langsung dari MCU. Kami benar-benar merasa seperti langsung bermain sebagai Avengers favorit kami, yang merupakan hal terbaik yang bisa dipertahankan dalam game Avengers. Sayangnya, model-model karakter yang seharusnya lebih detail kadang-kadang terlihat mengurangi kedekatan yang kuat dengan MCU. Tony Stark sedikit terlalu mirip dengan apa yang digambarkan oleh Robert Downey Jr., dan Thor terlihat seperti pemeran pengganti Chris Hemsworth.

Marvel's Avengers

Walaupun tidak bisa memainkannya, Crystal Dynamics juga memberikan sebuah penjelasan mendalam mengenai komponen multiplayer. Avengers akan dibagi menjadi dua mode yang berbeda: campaign Single-Player dan sebuah opsi multiplayer yang disebut Warzones. Di mana campaign utama dibuat untuk para pejuang penyendiri dan tidak memungkinkan kerjasama, arzones adalah apa yang akan membuat game ini tetap menarik di tahun-tahun yang akan datang. Didesain sebagai level-level terbuka, Warzones membawa Avengers mulai dari ke barat daya Amerika, sampai tempat terjauh di muka bumi. Para pemain akan terlibat dalam misi-misi dan meningkatkan level karakter mereka, membuka sebuah plethora kemampuan-kemampuan baru yang diletakan di skill trees yang berbeda (serupa dengan apa yang ada dalam Assassin's Creed Odyssey atau bahkan World of Warcraft). skill tree tersebut mengubah tipe kelas seorang Avengers yang kamu tunjuk. Misalnya Thor bisa menjadi baik sebuah unit tank, atau bisa juga lebih lemah dan memberikan lebih banyak damage. Dalam hal perkembangannya, setiap avengers akan membuka perlengkapan berbeda dengan perk dan kemampuan ekstra. Semua ini serupa dengan apa yang telah kita lihat dalam Destiny dan World of Warcraft, dengan warna ungu yang melambangkan perlengkapan epic, biru yang langka, dan seterusnya. Itu sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai sebuah revolusi.

Walaupun dengan beberapa nilai kurang karena kurangnya originalitas yang sesungguhnya atau tampilan karakter-karakternya yang kadang terlihat janggal,Marvel's Avengers sepertinya berhasil membawakan premisnya. Sebuah kombinasi dari mode single-player yang menegangkan, gameplay yang menyenangkan, dan rencana jangka panjang yang ambisius dengan lebih banyak karakter dan misi dalam warzone, Crystal Dynamics berada dalam jalur yang tepat untuk akhirnya bisa mendapatkan perasaan menjadi bagian dari hero-hero bumi yang paling perkasa.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Teks terkait



Loading next content