Indonesia
review
Godfall

Godfall

Kenakan zirah cahaya dan lawan musuh-musuh tangguh, di looter-slasher dari Counterplay Games ini.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Sesosok wajah robot yang dapat berbicara bernama The Sanctum, melayang-layang di semacam cahaya biru neon, berbicara tentang bagaimana saya harus membuat sebuah Valorplate bernama Archon of Rebirth untuk karakter saya yang bernama Orin. Karakter saya pun berubah menjadi Phoenix, untuk bisa menyerang sebuah semesta baru yang didasari oleh empat elemen. Pertama, Orin adalah seorang pria perkasa dengan baju zirah berkilauan, lalu setelah satu jam bermain Godfall, ia berubah menjadi seorang wanita, meskipun suaranya masih mirip dengan Optimus Prime. Satu jam kemudian saya kembali menjadi Orin asli dan The Sanctum kini menjadi Cortana pribadi saya, seorang asisten yang memandu saya melalui beberapa level paling linear dalam beberapa tahun terakhir.

Godfall adalah sebuah kekacauan, dalam hal mitologis. Kebanyakan waktu, saya benar-benar tidak paham apapun. Dengan jumlah nama, item, tipe, ras, dan grup yang disampaikan di jam-jam pertama seakan sebuah percobaan berani untuk mengalihkan perhatian saya dari betapa monotonnya game ini. Terkadang saya berpikir bahwa sang developer, Counterplay Games, telah berhasil melakukannya.

GodfallGodfall

Game ini sejak awal disebut-sebut sebagai sebuah "loot slasher", dan ini tentu saja adalah sesuatu yang konyol. Mari kita tidak membuatnya lebih rumit. Pada dasarnya, Godfall adalah sebuah gabungan antara Monster Hunter dan Diablo. Boom! Kamu berlari-larian di koridor-koridor yang super linier, menghajar musuh-musuh di kepala dengan pedang besar (atau kapak), lalu mengumpulkan orb dan item lain yang mereka tinggalkan. Kamu bisa menggunakan ini untuk meng-upgrade Orin dan senjatanya, untuk mencapai tujuan akhir, yaitu mengalahkan sang kakak yang jahat, Macros, yang ingin menggapai status dewa dan menghancurkan seluruh kerajaan.

Counterplay Games adalah sebuah tim berisi 75 orang di California Utara yang, melalui pendanaan dari Gearbox (kreator Borderlands), mampu menciptakan "game impian" mereka, yang dibuat di Unreal Engine 4. Counterplay Games berisi para mantan developer Blizzard dan Destiny/Destiny 2. Jelas terlihat di sini bahwa mereka mencoba membuat sebuah produk yang memiliki gaya dan rutin berdasarkan game-game di atas, dengan cara sebaik mungkin. Level-levelnya mencoba untuk menjadi Diablo III, sementara desainnya bernafaskan Destiny 2, yang memiliki asisten AI melayang dan baju zirah paladin bercahaya yang Bungie dorong ke dalam gamenya sejak awal.

Pertarungan-pertarungannya sangat sederhana. Orin menyerang dengan menekan tombol R1, serangan berat dengan R2, dan menghindar menggunakan X, lalu menggunakan perisainya dengan L1. Perkelahiannya selalu terasa berat, terdapat elemen fisika yang memuaskan di sini ketika membunuh seorang musuh dengan sabetan keras yang tepat sasaran. Lalu, selama campaign singkat game ini, kita bisa mengatur baik peralatan dan kekuatan.

GodfallGodfall

Pengaturan temponya juga cukup bagus. Kamu bisa melakukan sprint, kamu tidak bisa melompat (sesuatu yang umum di subgenre ini - tetapi selalu terasa membatasi dan aneh) dan Orin bergerak dengan anggun untuk ukurannya (setidaknya dalam "bentuk laki-lakinya"). Masalahnya lebih kepada Godfall tidak pernah terasa lebih dari sebuah demo visual mewah. Dunia yang dikerjakan begitu keras oleh Counterplay terasa setipis kertas dan membosankan, dengan karakter-karakter yang sukar untuk disukai dan sulit dimengerti. Musuh-musuhnya juga bodoh dan monoton. Orin membunuh kesatria Macro berwarna biru gelap yang sama, dengan senapan plasma yang sama sekitar 670.000 kali dan bos-bosnya mudah diprediksi dan tidak kreatif.

Desainnya adalah sebuah kombinasi liar antara Arena of Valor dan Destiny. Meski kuil di awal terlihat indah dengan koridor-koridor emasnya yang mewah dan sejumlah ray tracing yang terjadi, mudah untuk melihat bahwa gaya itu tidak berarti banyak dalam pembangungan dunianya, mitologi yang terhubung, dan segala hal yang ada dis ana. Semuanya tidak terlihat hidup dan menarik. Godfall tidak berhasil sama sekali dalam semua ini. Counterplay gagal untuk membuat saya peduli dengan apapun kecuali bermain secepat mungkin supaya saya bisa menyelesaikannya dan tidak menghabiskan waktu lebih lama dengan Orin.

Saya jarang membicarakan tentang harga ketika mengulas game. Itu terasa aneh saja. Kami secara umum jarang melakukan ini di Gamereactor. Namun, untuk Godfall, kami harus melakukannya, karena Gearbox meminta $47,99 untuk edisi standar di Epic Games Store dan $63,99 untuk Deluxe Edition, dan ini terasa seperti sebuah lelucon buruk. Ia cantik, tentu saja, meskipun Demon's Souls lebih cantik lagi. Terdapat banyak efek cahaya di sini, tekstur 4K, dan pantulan-pantulan yang membuat kita menoleh, sebelum lanjut menyerang satu lagi musuh generik yang bodoh. Godfall dalam hal ini mirip dengan Ryse: Son of Rome untuk Xbox One dalam beberapa bagian. Ia indah, namun tidak berjiwa dan monoton. Jujur saja, sulit untuk melihatnya selain dari sebuah game peluncuran next-gen yang hambar dan tidak akan diingat orang dalam tiga bulan ke depan.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
GodfallGodfallGodfall
05 Gamereactor Indonesia
5 / 10
+
Desain mewah. Mekanika pertarungan berat. Efek-efek cahaya yang indah.
-
Musuh-musuh yang membosankan. Gameplay dangkal. Sistem loot membosankan. Kurang variasi. Mitologinya benar-benar tidak masuk akal.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait

GodfallScore

Godfall

REVIEW. Ditulis oleh Petter Hegevall

Kenakan zirah cahaya dan lawan musuh-musuh tangguh, di looter-slasher dari Counterplay Games ini.



Loading next content


Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.