Gamereactor Indonesia. Tonton trailer video game terbaru dan interview dari konvensi gaming terbesar di dunia. Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Gamereactor
review film
Eternals

Eternals

Film penuh aksi Marvel terbaru ini mengajak kita mengikuti kisah para makhluk abadi yang bersatu kembali untuk melindungi manusia dari musuh kuno.

Meskipun telah menggandeng sutradara kenamaan Chloé Zhao, Eternals dari Marvel selalu terasa terlalu ambisius. Sebuah tambahan baru ke dalam MCU selalu menjadi proposisi yang rumit, memperkenalkan tim makhluk surgawi, yang penuh dengan kekuatan namun telah lama bersembunyi meskipun dengan adanya Thanos yang membasmi seluruh dunia dengan sarung tangan bertahtakan Infinity Stones, namun tetaplah sangat menjual.

Namun sekilas di awal, Eternals sepertinya akan menjadi sebuah kisah petualangan klasik Marvel, meninggalkan beberapa mitologi spesifik dari Shang-Chi, agar lebih mudah dan padat. Namun lagi, dengan Zhao yang turun tangan seorang peraih Oscar, ini terlihat meyakinkan.

Namun jika ditanyakan pada banyak pengulas di Amerika, Eternals meleset dari sasarannya, menjatuhkan narasi akan eksposisi berlebih dan kiasan yang membosankan. Apakah ini sebuah rintangan? Ya. Namun apakah menjadi sebuah introduksi yang efektif untuk para makhluk berkekuatan dewa ini? Tidak - setidaknya jika dilihat dari apa yang sudah kita dapatkan sekarang.

HQ

Jadi, apakah seburuk itu? Tidak juga. Eternals merupakan sebuah fantasi yang epik, dengan prioritas yang terungkap di beberapa menit awal. Naif, seperti opera laga anak-anak, namun di situ pula pesonanya. Tapi terasa kurang matang dan perlahan membosankan tanpa adanya pemulihan.

Ini adalah iklan:

Eternals merupakan penjaga yang ditugaskan di bumi untuk menjaga kita dari para Deviants, yang belum pernah muncul di MCU hingga sekarang, namun termasuk dalam barisan musuh yang kurang menarik yang dihadirkan Marvel. Mereka telah hidup selama 7000 tahun, namun telah menghilang hingga Thanos menjentikkan jarinya dan menyalakan yang disebut sebagai "Emergence", sehingga kedelapan Eternals harus bekerja sama untuk melindungi bumi dan keluar dari persembunyian mereka.

Tentu saja, adanya delapan karakter baru yang belum didalami sebelumnya hanya dalam 157 menit merupakan sebuah masalah, meski beberapanya mendapatkan waktu tayang yang cukup seperti Sersi dan Ikaris yang diperankan oleh Gemma Chen dan Richard Madden, memberikan hanya sedikit waktu untuk Thena yang diperankan oleh Angelina Jolie untuk muncul. Namun itu bukanlah yang mengganggu Eternals, atau pun alurnya. Justru Eternals merupakan salah satu film MCU yang bagus sejauh ini, mengalahkan Thor: The Dark World yang dibangun dengan cara yang mirip.

Namun fakta akan kurangnya ruang untuk narasi, dalam menciptakan dan mengeksekusi sebuah visi kreatif yang koheren untuk pengenalan serta pembedahan ke delapan Eternals, membangun sebuah ancaman dan antagonis yang kohesif, hingga menuju klimaks. Sehingga film ini terasa melompat-lompat untuk mengisi tiap keping cerita dalam waktu yang singkat, menghasilkan kisah yang meledak-ledak.

Eternals
Ini adalah iklan:

Zhao telah mencoba. Sinematografi yang indah, dan pandangannya akan lanskap dan warna yang memberikan tampilan berbeda, meski dengan adanya Deviants antagonis yang terasa begitu generik, para Eternals dan lingkungan sekitarnya yang menjadi latar ditangkap dengan begitu indahnya. Singkatnya, film ini tampak memukau meski dengan musuh yang membosankan.

Sayangnya, hal yang sama tidak bisa diucapkan untuk scoring dari sang komposer Ramin Djawadi, dan bagi mereka yang mengharapkan musik yang senada dan terinspirasi dari interpretasi simfonik atas The End of The World miliki Skeeter Davis dalam trailer pertama, maka akan kecewa. Terasa membosankan, generik, dan seperti sudah sering kita temui. Seharusnya ada langkah lebih untuk menciptakan sebuah scoring yang ethereal, seperti yang kita dengarkan dalam Dune atau The Mandalorian.

Namun secara keseluruhan, Eternals adalah sebuah satu fantasi epik yang padat, menghadirkan visual yang memukau dengan aksi yang dikoreografikan dengan baik, serta momen-momen emosional dan kemegahan yang dibutuhkan film ini. Zhao menahkodai sebuah kapan yang tidak seimbang, yang terkadang goyah, dan terlihat jelas oleh para penonton bahwa kurangnya waktu yang dibutuhkan.

Memang banyak yang tidak menginginkan ini menjadi dua babak, namun Eternals sepertinya membutuhkan hal ini.

HQ
Eternals
07 Gamereactor Indonesia
7 / 10
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait

0
Eternals

Eternals

REVIEW FILM. Ditulis oleh Magnus Groth-Andersen

Film penuh aksi Marvel terbaru ini mengajak kita mengikuti kisah para makhluk abadi yang bersatu kembali untuk melindungi manusia dari musuh kuno.



Loading next content