Gamereactor Close White
Log in member






Lupa password?
Saya bukan member, tapi saya ingin bergabung

Atau log in menggunakan akun Facebook
Gamereactor Indonesia
artikel
Destiny 2

Lompatan Besar Bungie: Bagaimana Nasib Mereka Setelah Berpisah dengan Activision?

Kira-kira model bisnis apa yang cocok untuk dilakukan pada Destiny? Apa yang sedang terjadi di Activision?

  • Teks: Mike Holmes
Facebook
TwitterReddit

Kisah ini bermula pada tahun 2007 ketika Bungie mengumumkan bahwa mereka akan meninggalkan pelukan hangat dari Microsoft untuk bertualang sendiri. Setelah mengemukakan rencana tersebut, mereka masih punya PR di franchise yang telah mereka kembangkan untuk Microsoft, yaitu Halo 3: ODST dan Halo: Reach sebelum akhirnya berpisah jalan dengan perusahaan pemilik Xbox tersebut.

Setelah beberapa lama berkelana di dunia independen, studio tersebut kembali berpartner dengan sebuah penerbit besar, kali ini pemilik franchise Call of Duty, Activision. Bersama, mereka mengumumkan sebuah kontrak sepuluh tahun yang akan melahirkan sebuah franchise besar: Destiny. Kini, hampir sembilan tahun setelah pengumuman tersebut, hubungan itu tampaknya telah selesai, dan Bungie sekali lagi menyatakan bahwa mereka akan kembali berjalan sendiri dan berpisah dengan sebuah mitra penerbit besar. Tak hanya itu, mereka pun membawa IP Destiny bersama mereka.

Mungkin ini cukup mengejutkan dari Bungie, tapi yang paling menonjol adalah waktunya, yang setahun lebih awal dari persetujuan sepuluh tahun mereka. Meski begitu, melihat sejarah mereka mencari "kemerdekaan", perpisahan dengan Activision ini tampaknya memang akan terjadi, bahkan sejak awal. Bungie menyinggungnya di pernyataan mereka, "Ketika kami pertama kali meluncurkan kerja sama dengan Activision tahun 2010, industri gaming masih merupakan tempat yang berbeda." Itu terbaca seperti sebuah justifikasi, sebuah cara untuk menjelaskan bahwa langkah menuju penerbitan independen adalah jalan yang mereka inginkan sejak dulu dan kini adalah waktu yang tepat untuk itu.

Destiny 2

Ditambah lagi, Bungie dulu merupakan sebuah studio yang amat berbeda. Setelah menghabiskan waktu begitu banyak mengerjakan Halo di bawah naungan aman dari Microsoft, mudah untuk melihat kenapa mereka membutuhkan perlindungan lain di balik hangatnya penerbit besar, sementara mereka terus mengerjakan sesuatu yang terbaik mereka kerjakan: membuat sci-fi shooter penuh aksi.

Kini, seperti yang dikatakan Bungie, industri game telah berubah, di mana penerbit dan studio independen sama-sama bergerak ke model bisnis live service untuk proyek terbesar mereka. Para petinggi Bungie tak mungkin tak tahu tentang game seperti Warframe - yang memiliki tema mirip dengan Destiny - yang tak hanya bertahan, namun berjaya di model penerbitan independen.

Bibit-bibit dari langkah ini mulai tumbuh ketika Bungie mengumumkan sebuah investasi dari NetEase, penerbit asal Tiongkok yang baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan Blizzard untuk membuat Diablo Immortal (yang tak disambut baik di BlizzCon). NetEase menanamkan modal sebesar $100 juta (sekitar Rp1,4 triliun) ke Bungie. Dengan begitu, jelas bahwa kreator Destiny ini memang menyongsong kehidupan pasca-Activision, dengan satu mata tertuju ke Tiongkok.

Tentunya, keadaan bisa saja berbeda. Jika saja hubungan dengan Activision lebih kuat, siapa tahu, mungkin keduanya bisa saja memperpanjang kerja sama mereka untuk sepuluh tahun lagi dan membuat dua entri Destiny lagi. Harapan itu pupus sudah. Dengan berpisahnya Bungie dengan Activision, penerbit tersebut kini berada dalam sebuah situasi menarik.

Tampak jelas bahwa Activision memiliki harapan yang tak terpenuhi akan Destiny, dan perpisahan ini juga mendukung kepentingan sang penerbit juga. Kami mendengar tahun lalu bahwa penerbit ini kecewa dengan performa Destiny 2: Forsaken dan jelas bahwa beberapa harapan tak terpenuhi di level korporat. Dengan biaya operasi yang tinggi dan jarak yang kemungkinan jauh dengan konten Destiny berikutnya, tak masuk akal jika harus terus mendukung Bungie jika pada akhirnya tak menguntungkan.

Destiny 2

Jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, kamu bisa melihat bahwa terdapat sejumlah perubahan besar di balik layar sang penerbit ini. Pengumuman terkini adalah mengenai Rob Kostich yang dikonfirmasi menjadi presiden baru. Memang, perubahan terjadi di Activision-Blizzard, di mana chief financial officer keluar, adanya pejabat senior baru di anak perusahaan mobile mereka King, co-fonder Sledgehammer Glen Schofield meninggalkan perusahaan, dan Mike Morhaime akhirnya meninggalkan Blizzard sepenuhnya dalam beberapa bulan ke depan. Bahkan Tony Hawk pun melambaikan tangan ke perusahaan tersebut tahun lalu - ya, seburuk itu. Ini masih belum menghitung pengurangan staf perlahan yang tampaknya dimulai hampir dua tahun lalu. Dengan langkah seperti pengurangan dukungan untuk Heroes of the Storm, mudah melihat akibat dari pengurangan ini.

Tentunya, Activision masih memiliki trik di balik lengannya, dengan Call of Duty sebagai berlian di mahkota mereka. Tapi dengan pertumbuhan seri tersebut mulai stagnan dan ketidakpuasan muncul dengan frekuensi yang lebih sering, tak mengherankan jika kita berspekulasi bahwa perusahaan ini sedang dalam gangguan. Penerbit ini pasti tak ingin bernasib sama seperti THQ, tapi untuk sebuah organisasi sebesar ini, perubahan apapun pasti akan meminta korban dan memerlukan pengelolaan yang hati-hati. Perginya Bungie bisa jadi merupakan salah satu akibatnya. Ini tidak indah, bukan pula promosi yang bagus, tapi ini diperlukan demi menstabilkan kapal yang oleng dan terus berjalan.

Destiny 2
Destiny 2
Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.