Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Gamereactor Indonesia
artikel
Diablo

Momen Penting di Dunia Game: Diablo

Memburu iblis tak pernah semenyenangkan ini.

Diablo masih bertahan setelah 22 tahun berlalu sejak game originalnya dirilis di PC, dan cukup jelas bahwa keindahan satanik ini pada waktu itu telah melampaui masanya. Grafisnya pada saat ini memang terlihat ketinggalan zaman, dan untuk beberapa orang, situasinya seperti 'lebih baik juga Diablo III', tetapi ketika kamu berpikir tentang apa yang telah dicapainya, mustahil untuk tidak memasukkannya ke dalam momen-momen bersejarah dalam dunia gaming.

Premisnya segar dan sederhana. Para pemain dipersilahkan memilih satu dari tiga kelas yang ada (Warrior, Rogue, atau Sorcerer), dan kemudian bertarung melewati lapisan demi lapisan penjara bawah tanah sampai ke neraka untuk sebuah pertarungan terakhir yang epik. Bisa dikatakan memainkan game ini sekarang masih terasa menyenangkan. Jadi, apa yang membuatnya masih menyenangkan setelah bertahun-tahun? Ya, kamu bertarung melewati serangkaian level yang dipenuhi iblis, melakukan sebuah petualangan yang semuanya ditugaskan secara acak, kecuali dua yang terakhir benar-benar telah dinaskahkan. Itu artinya kamu mendapatkan map-map yang benar-benar berbeda setiap kali kamu memainkannya. Dua kata: replay value.

Karakter pilihanmu tiba di desa Tristram untuk menemukan par penyintas untuk membantumu di sepanjang perjalanan. Ceritanya hebat: pada zaman dahulu kala, sekelompok Magi menjebak Diablo dalam sebuah soul stone dan menguburnya dalam-dalam, membangun sebuah biara di atasnya untuk menandainya. Kemudian, setelah bertahun-tahun, tujuan dari pendirian biara tersebut terlupakan dan seorang raja setempat memutuskan untuk membangunnya kembali sebagai sebuah katedral. Diablo melarikan diri, merasuki sang raja dan memenuhi ruangan-ruangan di bawah tanah dengan sekelompok makhluk-makhluk aneh untuk kamu perangi. Dan tentu saja, keputusan untuk menyelamatkan semuanya ada di tanganmu.

Diablo

Apa yang membentuk Diablo adalah atmosfernya, di mana kamu bertarung sepanjang jalan mulai dari sebuah katedral yang terkutuk sampai ke neraka untuk menghadapi sang titisan iblis. Ada pertarungan-pertarungan bos klasik dan rangkaian makhluk-makhluk yang luar biasa yang harus kamu bunuh, dan ketika melihat kembali ke belakang, rasanya menakjubkan melihat betapa gelap dan mengerikannya game ini untuk masanya. Bukan hanya dalam konten, tetapi juga secara harfiah berkat pencahayaannya. Bahkan dalam sebuah TV modern dengan kecerahan yang dipasang sampai maksimal, bisa sedikit sulit melihat beberapa musuhnya, meningkatkan rasa takut yang diciptakannya.

Bersamaan dengan atmosfer yang mengancam, akting pengisi suara dan soundtrack yang membuat terpukau benar-benar berhasil memperkuat pengalamannya, dan jelas bahwa bahkan pada waktu tersebut, Blizzard telah memiliki selera akan pemaparan cerita yang dramatis. Jika kamu hanya pernah memainkan Diablo III, kamu akan bisa mengerti. Ada juga fitur multiplayer di mana kamu bisa menghadapi sang iblis bersama kawan-kawanmu (kamu bisa bekerjasama, atau memilih untuk bersikap agresif terhadap sesama pemain jika kamu ingin menjadi seorang troll).

Pada tahun '97 ekspansi Hellfire hadir lengkap dengan kelas Monk, dan pada tahun 1998 game ini juga hadir di PlayStation. Pada konsol dari Sony, tidak ada banyak perbedaan dalam hal grafis maupun gameplay, di mana penjara-penjara bawah tanah dan petualangan-petualangan secara acak juga diterapkan, dan controller-nya juga merupakan pengganti sempurna untuk mouse dan keyboard. Kami tidak yakin kalau kami adalah satu-satunya yang mengenang penambahan fitur multiplayer dengan bahagia, dan banyak malam yang kami habiskan untuk bertarung bersama teman-teman dalam layar yang sama di jalan menuju ke neraka.

Diablo

Di samping hal-hal yang sudah jelas yang telah kami sebutkan, ada juga item drop. Tidak seperti entri-entri terakhir dari serial ini, tidak terlalu sulit untuk menemukan beberapa senjata dan armor yang hebat dari game ini. Game ini sendiri tidak terlalu panjang dengan empat area yang bisa didatangi (the Cathedral, Catacombs, Caves, dan Hell itu sendiri). Kami pun ingat ketika segera ingin memainkannya kembali, menaikan level karakter kami, dan menemukan equipment pembawa kehancuran yang lebih baik.

Ini adalah sebuah bukti dari daya tarik yang tahan lama dari game pertamanya yang membuat kami merasa seperti melihat semacam sebuah kilas balik dalam bentuk event spesial di Diablo III tahun lalu, menjalankan game ini melalui sebuah filter untuk membuatnya memiliki tampilan pixelated seperti apa yang kami rasakan pada masa-masa indah di masa lalu. Kami juga mendapatkan pergerakan yang dibatasi, seluruh 16 level, dan boss fight yang membuat kami ketakutan, jika fanservice seperti itu tidak cukup jelas untuk menunjukkan rasa sayang orang-orang terhadap game yang pertama, kami tidak tahu lagi apa yang bisa.

Jadi, kami simpulkan, gameplay bercita rasa tinggi dan replayability yang hebatlah yang telah membuat Diablo menjadi sebuah game yang sangat penting dalam catatan industri game ini. Map-map yang dibangun secara prosedural dan petualangan-petualangan telah menjadi kebutuhan pokok bagi para penjelajah penjara-penjara bawah tanah dan para penerusnya cukup layak dijadikan standar untuk seluruh genre tersebut. Dan sekarang, Diablo III telah mendapatkan hidup baru dengan the Eternal Collection yang mendarat di Nintendo Switch, tetapi sepertinya brand Diablo masih akan memanjakan penggemarnya di di masa yang akan datang.